Jumat, 28 November 2014

Calon Manajer dan Direktur

Seorang anak muda mendaftar utk posisi manajer di sebuah perusahaan besar. 
Dia lulus interview awal, dan sekarang akan bertemu dengan direktur untuk interview terakhir.
Direktur mengetahui bahwa dari CVnya, si pemuda memiliki prestasi akademik yang baik. Kemudian dia bertanya, "apakah kamu mendapatkan beasiswa dari sekolah?" 
Si pemuda menjawab, "tidak."‎
"Apakah ayahmu yang membayar uang sekolah ?"
"Ayah saya meninggal ketika saya berumur 1 tahun, ibu saya yang membayarkannya"
"Dimana ibumu bekerja ?"
"Ibuku bekerja sebagai tukang cuci."

Sang direktur kemudian meminta si pemuda untuk memperlihatkan tangannya. 
Si pemuda pun menunjukkan tangannya yang mulus dan halus.

"Apakah kamu pernah membantu ibumu mencuci baju ?"
"Tidak pernah. Ibuku selalu ingin aku belajar dan membaca banyak buku. Dan memang, ibuku dapat mencuci baju lebih cepat dariku."

Sang direktur kemudian berkata, "baik, sekarang aku memiliki permintaan. Ketika kamu pulang ke rumah hari ini, pergi dan cuci tangan ibumu. Kemudian temui aku esok hari."

Si pemuda merasa kemungkinannya mendapatkan pekerjaan ini sangat tinggi. Ketika pulang, dia meminta ibunya untuk membiarkan dirinya membersihkan tangan ibunya. Ibunya merasa heran, senang tetapi dengan perasaan campur aduk, dia memperlihatkan tangannya ke anaknya.

Si pemuda kaget ketika membersihkan tangan ibunya perlahan. Airmatanya tumpah. Ini pertama kalinya dia menyadari tangan ibunya sangat keriput dan banyak luka. Beberapa luka cukup menyakitkan. Ibunya merintih ketika dia menyentuhnya.‎

Ini pertama kalinya si pemuda menyadari bahwa sepasang tangan inilah yang setiap hari mencuci baju banyak orang agar dirinya bisa sekolah. Luka di tangan ibunya merupakan harga yang harus dibayar ibunya untuk pendidikannya, sekolahnya, dan masa depannya...‎

Setelah membersihkan tangan ibunya, si pemuda diam-diam mencuci semua pakaian tersisa untuk ibunya,
Malam itu, ibu dan anak itu berbincang hingga larut malam.

Pagi berikutnya, si pemuda pergi ke kantor direktur.
Sang‎ direktur melihat ada air mata menetes di pipi si pemuda. 
Kemudian dia bertanya, "dapatkah kamu ceritakan apa yang kamu lakukan dan kamu pelajari tadi malam di rumahmu ?"

Si pemuda menjawab,"saya membersihkan tangan ibu saya dan juga menyelesaikan cuciannya..."‎
"Saya kini mengetahui apa itu apresiasi. Tanpa ibu saya, saya tidak akan menjadi diri saya seperti sekarang. Dengan membantu ibu saya, baru sekarang saya mengetahui betapa sukar dan sulitnya melakukan sesuatu sendiri‎. Dan saya mulai mengapresiasi betapa pentingnya dan berharganya  bantuan dari keluarga."

Sang direktur berkata,"inilah yang saya cari di dalam diri seorang manajer. Saya ingin merekrut seseorang yang dapat mengapresiasi bantuan dari orang lain, seseorang yang mengetahui penderitaan orang lain ketika mengerjakan sesuatu, dan seseorang yang tidak menempatkan uang sebagai tujuan utama dari hidupnya"
"Oleh sebab itu, aku putuskan: kamu diterima.."

*****
Saudaraku...‎
Seorang anak yang selalu dilindungi dan terbiasa diberikan apapun yang mereka inginkan akan mengembangkan " mental ke'aku'an" dan selalu menempatkan dirinya sebagai prioritas. Dia akan tidak peduli dengan jerih payah orangtuanya. 

Apabila kita tipe orang tua seperti ini, sebenarnya kita menunjukkan rasa cinta kita atau menghancurkan anak-anak kita ?

Kita dapat membiarkan anak-anak tinggal di rumah besar, makan makanan enak, menonton dari TV layar besar. Tetapi ketika kita membersihkan rumah, biarkan mereka mengalaminya juga. Setelah makan, biarkan mereka mencuci piring mereka dengan saudara-saudara mereka. ‎
Ini bukan masalah apakah kita dapat memperkerjakan pembantu, tetapi ini karena kita ingin mencintai mereka dengan benar. Kita ingin mereka mengerti, tidak peduli seberapa kayanya orangtua mereka, suatu hari nanti mereka akan menua, seperti ibu si pemuda. 

Yang terpenting, anak-anak mempelajari bagaimana mengapresiasi usaha dan pengalaman mengalami kesulitan, serta  belajar untuk bekerja dengan orang lain, agar tumbuh rasa empati terhadap orang lain...

Sumber : Grup WA "Gerakan Cinta Imun"

Kamis, 27 November 2014

Meskipun Galak dan Jarang Tersenyum, Bapak adalah My Hero

Bapak adalah salah satu sosok terhebat dalam keluarga saya. Saya sangat bersyukur Allah SWT memberikan seorang bapak yang luar biasa. Meskipun galak, hatinya lembut terhadap anak-anaknya.
Saya Ugi, salah satu reporter magang di Koran Sindo Batam. Saat ini saya jauh dari kedua orangtua, mereka tinggal di Desa Titi Akar, Kecamatan Rupat Utara, Kabupaten Bengkalis, Provinsi Riau, bisa dibilang pelosok.

Sejak lahir hingga sekolah dasar (SD) saya tinggal di Desa Titi Akar, saat itu kedekatan antara saya dan bapak tidak seperti sekarang. Sewaktu saya kecil, bapak adalah sosok yang menakutkan, terlebih lagi jika sedang marah. Walau begitu, tidak semua kesalahan saya membuat bapak marah. Dulu sewaktu saya belajar bersepeda dan selalu jatuh, bapak sama sekali tidak marah. Bapak justru menyuruh saya terus mencoba mengayuh sepeda. Tak berselang lama akhirnya saya bisa bersepeda.

Saat saya melanjutkan Madrasah Tsanawiyah (MTs) di Dumai, saya tinggal bersama kakak sulung yang baru menikah. Saya kembali jarang komunikasi dengan bapak, saat itu saya merasa bapak sangat tidak peduli terhadap saya. Bapak terlihat lebih sayang dan peduli terhadap kakak sulung saya, semua keluh kesah saya seolah tidak digubrisnya.

Saya tetap di Dumai saat melanjutkan Sekolah Menengah Atas (SMA) atas permintaan kedua orangtua, karena mereka khawatir terjadi apa-apa terhadap saya. Saya ikuti kemauan mereka meskipun hati saya menolak. Tibalah saatnya Ujian Nasional (UN), waktu itu saya merengek ke bapak agar sepeda motor di kampung dikirim ke Dumai. Saya ingin menggunakan sepeda motor ke sekolah tanpa harus menggunakan angkot. Bapak tidak ingin saya gagal dalam ujian hanya karena sepeda motor, akhirnya permintaan saya dituruti.

Setelah lulus SMA, saya kuliah di UIN SUSKA Pekanbaru, Riau. Saya mengambil jurusan Ilmu Komunikasi, saat itu saya tidak pernah minta pendapat bapak tentang jurusan yang saya ambil. Saya sempat pulang ke rumah karena perkuliahan belum dimulai, hampir sebulan di rumah.

Di rumah, bapak tidak pernah absen nonton berita. Waktu itu entah mengapa saya ikut nonton berita. Saat jeda iklan, bapak bertanya kepada saya, “Jadi kalau seperti itu harus kuliah di luar negeri ya?” Yang dimaksud bapak adalah menjadi presenter berita. Saya mengiyakan, saat itu saya belum mengetahui bahwa jurusan yang saya ambil termasuk dalam jurnalistik.

Setelah sebulan, saya kembali ke Pekanbaru untuk kuliah. Dari sanalah saya dan bapak mulai dekat, kami sering teleponan, curhat tentang kuliah, tentang kegiatan sehari-hari, hingga organisasi yang saya ikuti. Tanpa diminta pendapat pun, bapak sering memberi nasehat. Memang sejak kecil saya dan kedua kakak perempuan dididik keras, harus mandiri, tidak boleh jadi perempuan cengeng, harus tegar, tidak boleh patah semangat, tanamkan dalam hati untuk terus berjuang.

Salah satu nasehat bapak yang membekas di hati,

"Bapak tidak bergelimang harta, kita bukan orang kaya. Jadi bapak tidak bisa mewariskan materi, hanya nasehat dan pengalaman hidup bapak yang bapak wariskan. Semoga hidup kamu tidak seperti bapak, semoga kehidupan kamu lebih baik dari orangtua."

Tahun 2010, saya, bapak dan saudara bapak melakukan perjalanan ke Kebumen, Jawa Tengah menggunakan bus. Itu adalah hasil rengekan saya selama beberapa tahun yang akhirnya dituruti. Saat itu, seakan langit penuh pelangi.

Selama perjalanan saya baik-baik aja. Namun selang beberapa hari di kampung kelahiran bapak, saya demam tinggi. Setelah pulang dari ziarah makam eyang putri dan eyang kakung, kami mampir ke rumah salah satu keponakan bapak, saat itu hujan lebat. Bapak melihat saya mondar-mandir, dan setelah mengetahui bahwa badan saya panas tinggi, bapak langsung panik. Bapak sampai memaksa keponakannya memanggil dokter yang bertugas di sana.

Karena hari sudah sore, tidak ada lagi dokter yang buka praktek. Lalu saya dibawa ke rumah pribadi dokter walaupun masih hujan. Itu pertama kalinya saya melihat bapak panik dan khawatir dengan keadaan saya. Sepulang dari rumah dokter, bapak memaksa saya untuk makan banyak, minum air putih yang banyak, tidak boleh makan asam dan pedas.

Sejak itu hingga sekarang, saya sangat dekat dengan bapak. Bapak selalu mengkhawatirkan keadaan saya. Apalagi jika saya sedang sakit atau belum makan, bapak bisa marah tapi marahnya dibalut dengan rasa sayang yang sangat besar.

Tahun 2013 sebelum skripsi saya selesai, saya harus menjalani Praktek Kerja Lapangan (PKL). Alhamdulillah saya bisa PKL di Trans7 Jakarta selama dua bulan bersama dua rekan kuliah. Hampir setiap hari bapak menelepon saya hanya untuk bertanya kabar dan memastikan apakah saya sudah makan atau belum. Bapak terus memberi semangat dan terdengar bahagia saat saya menceritakan hal-hal menarik selama berada di studio maupun di kantor Trans7.

Seminggu sebelum saya kembali ke Pekanbaru, saya sakit karena kelelahan. Sebenarnya saya tidak berniat untuk menceritakannya ke orangtua, tetapi waktu itu tiba-tiba Mak menelepon dan tahu saya sakit. Bapak yang sedang mengiris daging ayam dan mendengar saya sakit langsung teriris jari tangannya. Saya sedih waktu itu, karena saya membuat jari bapak luka karena kaget.

Sejak kecil bapak tidak pernah mengekang saya, saya diberi kebebasan untuk menentukan pilihan saya sendiri. Tetapi saya pergunakan kesempatan itu sebaik mungkin, saya tidak ingin mengecewakan orangtua.


Sumber : vemale

Rabu, 26 November 2014

Supir Angkot

ilustrasi
Menyusul insiden nyium mobil tangki 3 minggu lalu walhasil si neng a**a dirawat inap di bengkel. Jadi tiap hari pulang pergi ke toko naik angkot. Sebenernya pengennya sih jalan kaki, jarak 3.5 km kayaknya gak kerasa deh dibanding kemarin jalan di mekkah, maksudnya sih biar sambil olah raga, soalnya secara berat badan udah naik 4kg. Tapi berhubung suami dan si sulung gak ngijinin... yaa sudahlah naik angkot aja.

Ternyata naik angkot itu asik juga...bisa merhatiin orang-orang sekitar. kayak pagi ini, ada anak sekolah berdiri di pinggir jalan, angkotnya berhenti... anak berseragam itu diteriakin sopirnya... pakupatan...dia diam... kemana? tanya sopir lagi... anak itu bertanya... kalau saya bayarnya 2000 boleh naik enggak? sopirnya ketawa... naik aja... ayo naik... anak itu tersenyum... makasih pak... sopirnya bilang doain bapak yaaa...biar ada sisa lebih dari setoran ... kamu sekolah yang pinter... jadi anak yang harus nurut sama orang tua, biar selamat hidupnya... ngerasainkan susah jadi orang gak punya uang.... anak itu jawab iya pak...sopirnya bertanya , cita-cita kamu jadi apa? jadi orang bener pak... kata ibu saya percuma jadi orang hebat kalau gak jadi orang bener... kalau jadi orang bener pasti nanti jadi hebat..... melongo sesaat.... eeeehhh kiriiii pak... kiriiii... kelewatan toko saya.... buru-buru turun bayar... berdua pak sama anak yang bener ini.... langsung turun dari angkot....

Jadilah hari ini cita-cita ku kesampaian jalan kaki dari lampu merah Graha sampai ke Ruko... hatiku riang.... aku punya oleh-oleh berharga buat kedua anakku. ...Alhamdulillah....


oleh : Ernydar Irfan

Selasa, 25 November 2014

Cara Allah Mendistribusikan Rezeki

Selasa, 25 Nov 2014, Jam 12.45

Selesai melaksanakan shalat Dzuhur berjama'ah di Masjid Jami' Al Hidayah, Jl.Tebet Timur Dalam, sambil menunggu hujan reda akupun merebahkan tubuh ini di lembutnya karpet hijau yg masih baru. Aroma kebaruannya masih begitu terasa.

Hujanpun perlahan mereda. Akupun melangkahkan kaki nenuju depan masjid dimana sandal tuaku tergeletak sendirian. Ya sendirian karena jama'ah sudah bubar sebelum hujan turun.

Kira-kira 2 meter dari tempat sandal tuaku terdapat tiga orang penjual jeliling. Bakso Malang disebelah kiri, Bakso di tengah dan Bakso Malang lagi di sebelah kanannya.

Ditengah gemerintik hujan, nafsu makanku pun bergejolak. Perlahan aku melangkah mendekati ketiga pedagang keliling tersebut.

Satu demi satu ku amati. Pertama tukang bakso. Baksonya yang besar menggugah seleraku. Tapi ku abaikan untuk kemudian melihat Bakso Malang di sebelah kiri. Perlahan kaki ini melangkah mendekatinya. Tukang Bakso Malang perlahan berkata,"Bakso Malang Pak!"

Walau perlahan ditiup angin, aku masih bisa mendengar jelas suaranya. Tapi kaki ini terus melangkah menuju tukang Bakso Malang yang satunya lagi. Dan aku berkata,"Satu Bang!"

Setelah pesanan siap ditangan, akupun melangkah ke pelatatan masjid, siap untuk nenyantap semangkok Bakso Malang.

Tiba-tiba saja pertanyaan ini muncul,"Mengapa aku memesan ke tukang Bakso Malang yang ini dan bukan yang itu? Padahal kedua jenis makanan yang disajikan PERSIS SAMA !

SUBHABALLAH !! ALLAHU AKBAR !!

Keherananku pun spontan terjawab ketika ada dua orang pembeli menyerahkan mangkok lalu membayar kepada penjual Bakso Malang pertama. Rupanya penjual Bakso Malang kedua belum mendapat pembeli.

Begitulah cara Allah mengantarkan rezeki kepada hamba-hambaNya. Dan tak pernah tertukar rezeki untuk masing-nasing orang. "Lalu nikmat Tuhanmu manakah lagi yang kalian dustakan?"

oleh : Valentino Dinsi


Indonesian Young Pearl’s Home

Indonesian Young Pearl’s Home (Rumah Mutiara Muda) merupakan suatu lembaga sosial yang berupa rumah belajar untuk para anak jalanan dan anak-anak yang berkebutuhan khusus seperti anak-anak yang cacat, keterbelakangan mental, dan sebagainya yang memiliki berbagai kelebihan dan potensi serta kreativitas yang selama ini tak bisa teroptimalkan dan tersalurkan dengan baik.

sumber
Dari observasi yang saya lakukan di berbagai daerah di Kota Bandung dan sekitarnya ternyata di sekitar kita masih banyak anak-anak jalanan dan anak-anak berkebutuhan khusus yang sangat memiliki kelebihan dan potensi bahkan melebihi mereka yang normal dan kebanyakan anak-anak lainnya yang hidup. Namun yang membuat saya miris adalah mereka yang benar-benar memiliki kelebihan dan telah disaksikan secara langsung oleh saya sendiri, tidak pernah mendapatkan perhatian yang khusus dari orang-orang sekitarnya, pemerintah, bahkan orang tua mereka sendiri. Peran orangtua yang seharusnya memberikan dukungan, kepedulian, dan perhatian terhadap hasil karya anaknya tidak mereka dapatkan. Salah satu faktornya yaitu sekali lagi karena kemiskinan. Mereka semua hanya melihat anak-anak itu dengan sebelah mata dan inilah yang sepertinya telah menjadi budaya orang Indonesia. Hanya orang-orang normal dan yang memiliki harta lebih saja yang banyak mendapatkan perhatian orang-orang. Saya sangat sedih melihat realita masyarakat Indonesia yang seperti ini. Mereka sama sekali tak melirik anak-anak yang sebenarnya memiliki kemampuan yang sangat luar biasa. Dan ironisnya dengan usia dibawah umur mereka sudah disuruh oleh orangtuanya sendiri untuk bekerja dan hanya berpangku tangan tanpa memperdulikan pendidikan yang mungkin dengan itu bisa memperbaiki kehidupannya.

Selain anak-anak jalanan yang menjadi fokus perhatian saya, saya juga sangat tersentuh terhadap anak-anak yang berkebutuhan khusus seperti mereka yang cacat fisik, keterbelakangan mental, dan sebagainya yang dimana mereka memiliki bakat terpendam yang sangat luar biasa bahkan lebih dari anak-anak normal seusianya. Memang sejatinya, Allah memberikan setiap orang kelebihan dan kekurangan masing-masing. Mereka yang kurang pun masih memiliki kelebihan dan semangat yang kuat. Namun yang kembali membuat hati saya miris adalah pemerintah dan orang-orang yang sama sekali tak memperdulikan mereka bahkan menyepelekan mereka hanya karena mereka tak bisa hidup normal seperti yang lainnya yang memiliki fisik atau mental yang sempurna. Mereka sama sekali tak tersentuh hatinya dengan penderitaan yang anak-anak itu alami. Padahal mungkin merekalah salah satu anak Indonesia yang berharga. Saya sangat iri dengan negara lain dimana pemerintahnya atau masyarakatnya sangat peduli bahkan menghargai karya anak-anak yang cacat fisik maupun keterbelakangan mental. Bahkan potensi yang mereka miliki dihargai dan didukung sehingga mereka bisa mengikuti kejuaran-kejuaraan seperti anak-anak normal lainnya. Sehingga mereka bisa terus mengasah bakatnya yang terpendam dan bisa bersyukur atas karunia yang mereka miliki meskipun dengan tubuh yang tidak sempurna.

Inilah alasan yang melatarbelakangi tulisan saya dan saya berharap ini bukan hanya sekedar tulisan tapi bisa menggugah hati para pembacanya dan mendukung gerakan saya yang berkeinginan membuka rumah belajar Indonesian Young Pearl Home (Rumah mutiara Muda Indonesia). Rumah yang akan merangkul anak-anak yang kurang beruntung seperti anak-anak jalanan dan mereka yang berkebutuhan khusus dan mendukung serta menyalurkan bakat-bakat terpendam yang mereka miliki. Merekalah mutiara-mutiara muda Indonesia yang sebenarnya. Ini jugalah salah satu alasan saya mengapa saya menamakan lembaga sosial saya Indonesian Young Pearl’s Home atau Rumah Mutiara Muda Indonesia. Mereka yang masih menjalani kehidupan di luar sana masih berupa pasir yang nantinya akan berubah menjadi mutiara. Mereka hanya tak tau akan menjadi pasir yang menjadi mutiara yang sangat mahal harganya atau hanya menjadi pasir yang bersebaran di laut lepas tanpa ada tangan-tangan tulus yang meraihnya. Mereka hanya bisa menunggu dan berharap bisa diraih dengan tangan-tangan yang tepat. Ini yang menjadi harapan saya dimana Indonesian Young Pearl’s Home ini adalah wadah atau tempat pasir-pasir itu menjadi mutiara seperti kerang yang menjadi tempat asalnya mutiara. Kenapa mereka saya sebut mutiara? Ya mereka mutiara karena merekalah anak-anak bangsa Indonesia yang sangat berharga karena dalam keterbatasan mereka, mereka dapat menghasilkan karya yang sangat luar biasa pula dan mahal karena orang-orang yang hidupnya enak dan normal belum tentu memiliki bakat seperti mereka.

Yang membedakan rumah belajar Indonesian Young Pearl’s Home dengan rumah belajar yang lainnya yaitu kita tidak hanya merangkul anak-anak jalanan saja yang tak bisa menikmati bangku sekolah, yang tak bisa menyalurkan bakat dan karyanya, tetapi kita juga merangkul anak-anak berkebutuhan khusus cacat fisik dan keterbelakangan mental yang membutuhkan uluran tangan yang tulus. Dimana rumah belajar yang lainnya kebanyakan hanya merangkul anak-anak yang tak bisa sekolah saja dan ternyata melupakan anak-anak berkebutuhan khusus yang juga membutuhkan bantuan. Disini kita merangkul semuanya dalam satu lembaga. Disini kita juga mengajarkan mereka anak-anak jalanan yang normal bisa juga peduli, mengasih, dan menghargai mereka yang tak normal karena sudah menganggap satu keluarga di Indonesia Young Pearl’s Home. Disini kita sendirilah para mahasiswa yang menjadi pengajarnya dan yang membimbing mereka dan kita pulalah yang mengelola rumah belajar ini. Sehingga ada kepedulian antara mahasiswa dengan masyarakat. Karena mahasiswa merupakan pemuda yang nantinya akan menjadi penerus bangsa yang bermoral dan yang nantinya diharapkan memiliki cinta kasih pada mereka yang membutuhkan misalnya seperti anak-anak itu dan bisa berkontribusi dimanapun para mahasiswa itu berada. Indonesian Young Pearl’s Home juga sebagai wujud kepedulian mahasiswa dengan masyarakat Indonesia..

oleh : Dina Rahmawati (adik sang pemilik blog)