Sabtu, 29 November 2014

Jangan Terlalu Cepat Menilai Orang

Seorang dokter bergegas masuk ke dalam ruang operasi....
Ayah dari anak yang akan dioperasi menghampirinya: "Kenapa lama sekali anda sampai ke sini? Apa anda tidak tau, nyawa anak saya terancam jika tdk segera dioperasi?" labrak si ayah.

Dokter itu tersenyum, "Maaf, saya sedang tidak di RS tadi, tapi saya secepatnya ke sini setelah ditelepon pihak RS."
Ilustrasi
Kemudian ia menuju ruang operasi. Setelah beberapa jam ia keluar dengan senyuman di wajahnya. "Syukurlah  keadaan anak anda kini stabil." Tanpa menunggu jawaban sang ayah, dokter tersebut berkata: "perawat akan membantu anda jika ada yang ingin anda tanyakan." Dokter tersebut pun segera berlalu.
"Kenapa dokter itu angkuh sekali? Dia kan sepatutnya memberikan penjelasan mengenai keadaan anak saya!" sang ayah berkata pada perawat RS.
Sambil menunduk dan meneteskan airmata perawat menjawab : "Anak dokter tersebut meninggal dalam kecelakaan kemarin sore, ia sedang menguburkan anaknya saat kami meneleponnya untuk melakukan operasi pada anak anda. Sekarang anak anda telah selamat, ia bisa kembali berkabung." ....
Sambil menanggung malu Ayah tersebut terdiam ...
JANGAN PΕRNΑН TERBURU-BURU MENILAI SESEORANG..
Tp maklumilah bahwa tiap jiwa di sekeliling kita juga mungkin sekali menyimpan cerita kehidupan yang tak terbayangkan di benak kita...
Mungkin ada  air mata di balik setiap senyuman..
Αda  kasih sayang di balik setiap amarah..
Αda  pengorbanan di balik setiap ketidak pedulian..
Αda  harapan di balik setiap kesakitan..
Αda  kekecewaan di balik setiap derai tawa..
Semoga bermanfaat agar kita menjadi manusia dengan rasa maklum yang semakin luas dan bersyukur dengan apa yang telah  diberikan dalam hidup ini.
INGAT, kita bukan satu-satunya manusia dengan segudang masalah...
Tersenyumlah ..
Senyum mampu membasuh setiap luka ..
Maafkanlah..
Maaf mampu menyembuhkan semua rasa sakit..
Dan Jadilah Pemaaf..


Sumber : H. Sumedi Abdul Latif, Lc.

Jumat, 28 November 2014

Sedekah Menolak Bala

Image result for sedekah
ilustrasi sedekah 
Sahabat Dompet Dhuafa yang budiman, Rasulullah Saw. pernah bersabda, “Bersegeralah bersedekah, sebab bala bencana tidak pernah bisa mendahului sedekah."

Banyak sekali hadis yang menyatakan betapa pentingnya seorang mukmin untuk melakukan sedekah. Lantas, apa saja keistimewaan bersedekah?

Pertama, sedekah melepaskan pelakunya dari bencana. Ini sesuai dengan sabda Rasulullah Saw., “Sesungguhnya sedekah dapat menolak 70 pintu bencana."

Kedua, sedekah merupakan obat penyakit pada tubuh. Rasulullah Saw. menjelaskan, “Obatilah penyakitmu dengan bersedekah."

Ketiga, sedekah sebagai benteng untuk diri kita. Rasulullah Saw. bersabda, "Bentengilah harta bendamu dengan sedekah."

Keempat, sedekah memadamkan kemurkaan Allah. Rasulullah Saw. bersabda, “Sedekah dapat menutup kemurkaan Allah.”

Kelima, sedekah menambah keakraban sesama Muslim. Rasulullah Saw. bersabda, "Sedekah adalah hadiah. Maka berikanlah hadiah kepada teman pergaulanmu dan berkasih sayanglah kalian dengan saling memberi sedekah."

Keenam, sedekah menanamkan rasa belas kasihan dalam hati. Rasulullah Saw. bersabda, “Barang siapa mendapatkan kesedihan di dalam hati, maka berikanlah sedekah."

Ketujuh, sedekah dapat menambah umur. Rasulullah Saw.bersabda, “Sedekah dapat menolak musibah serta dapat menambah keberkahan umur."

Kedelapan, sedekah sebagai syafaat kelak di akhirat. Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya yang akan menaungi seorang mukmin pada hari kiamat kelak adalah sedekah."

Kesembilan, orang yang bersedekah menuai pahala yang teramat besar. Dalam sebuah atsar disebutkan, “Barang siapa bersedekah dengan sebiji tamar, kelak di hari kiamat dia akan mendapat pahala sebesar gunung yang berada di atas timbangan amalnya."

Kesepuluh, sedekah sebagai wasilah (perantaraan) untuk menambah rezeki. Rasulullah Saw. bersabda, "Tidak akan berkurang harta yang disedekahkan, bahkan akan bertambah, akan bertambah dan akan bertambah.“. Ali bin Abi Thalib Kw pun berkata. "Pancinglah rezeki dengan bersedekah."

Demikianlah sedekah menjadi ibadah yang sangat dianjurkan dalam Islam. Yuk, kita raih kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat dengan bersedekah.


Calon Manajer dan Direktur

Seorang anak muda mendaftar utk posisi manajer di sebuah perusahaan besar. 
Dia lulus interview awal, dan sekarang akan bertemu dengan direktur untuk interview terakhir.
Direktur mengetahui bahwa dari CVnya, si pemuda memiliki prestasi akademik yang baik. Kemudian dia bertanya, "apakah kamu mendapatkan beasiswa dari sekolah?" 
Si pemuda menjawab, "tidak."‎
"Apakah ayahmu yang membayar uang sekolah ?"
"Ayah saya meninggal ketika saya berumur 1 tahun, ibu saya yang membayarkannya"
"Dimana ibumu bekerja ?"
"Ibuku bekerja sebagai tukang cuci."

Sang direktur kemudian meminta si pemuda untuk memperlihatkan tangannya. 
Si pemuda pun menunjukkan tangannya yang mulus dan halus.

"Apakah kamu pernah membantu ibumu mencuci baju ?"
"Tidak pernah. Ibuku selalu ingin aku belajar dan membaca banyak buku. Dan memang, ibuku dapat mencuci baju lebih cepat dariku."

Sang direktur kemudian berkata, "baik, sekarang aku memiliki permintaan. Ketika kamu pulang ke rumah hari ini, pergi dan cuci tangan ibumu. Kemudian temui aku esok hari."

Si pemuda merasa kemungkinannya mendapatkan pekerjaan ini sangat tinggi. Ketika pulang, dia meminta ibunya untuk membiarkan dirinya membersihkan tangan ibunya. Ibunya merasa heran, senang tetapi dengan perasaan campur aduk, dia memperlihatkan tangannya ke anaknya.

Si pemuda kaget ketika membersihkan tangan ibunya perlahan. Airmatanya tumpah. Ini pertama kalinya dia menyadari tangan ibunya sangat keriput dan banyak luka. Beberapa luka cukup menyakitkan. Ibunya merintih ketika dia menyentuhnya.‎

Ini pertama kalinya si pemuda menyadari bahwa sepasang tangan inilah yang setiap hari mencuci baju banyak orang agar dirinya bisa sekolah. Luka di tangan ibunya merupakan harga yang harus dibayar ibunya untuk pendidikannya, sekolahnya, dan masa depannya...‎

Setelah membersihkan tangan ibunya, si pemuda diam-diam mencuci semua pakaian tersisa untuk ibunya,
Malam itu, ibu dan anak itu berbincang hingga larut malam.

Pagi berikutnya, si pemuda pergi ke kantor direktur.
Sang‎ direktur melihat ada air mata menetes di pipi si pemuda. 
Kemudian dia bertanya, "dapatkah kamu ceritakan apa yang kamu lakukan dan kamu pelajari tadi malam di rumahmu ?"

Si pemuda menjawab,"saya membersihkan tangan ibu saya dan juga menyelesaikan cuciannya..."‎
"Saya kini mengetahui apa itu apresiasi. Tanpa ibu saya, saya tidak akan menjadi diri saya seperti sekarang. Dengan membantu ibu saya, baru sekarang saya mengetahui betapa sukar dan sulitnya melakukan sesuatu sendiri‎. Dan saya mulai mengapresiasi betapa pentingnya dan berharganya  bantuan dari keluarga."

Sang direktur berkata,"inilah yang saya cari di dalam diri seorang manajer. Saya ingin merekrut seseorang yang dapat mengapresiasi bantuan dari orang lain, seseorang yang mengetahui penderitaan orang lain ketika mengerjakan sesuatu, dan seseorang yang tidak menempatkan uang sebagai tujuan utama dari hidupnya"
"Oleh sebab itu, aku putuskan: kamu diterima.."

*****
Saudaraku...‎
Seorang anak yang selalu dilindungi dan terbiasa diberikan apapun yang mereka inginkan akan mengembangkan " mental ke'aku'an" dan selalu menempatkan dirinya sebagai prioritas. Dia akan tidak peduli dengan jerih payah orangtuanya. 

Apabila kita tipe orang tua seperti ini, sebenarnya kita menunjukkan rasa cinta kita atau menghancurkan anak-anak kita ?

Kita dapat membiarkan anak-anak tinggal di rumah besar, makan makanan enak, menonton dari TV layar besar. Tetapi ketika kita membersihkan rumah, biarkan mereka mengalaminya juga. Setelah makan, biarkan mereka mencuci piring mereka dengan saudara-saudara mereka. ‎
Ini bukan masalah apakah kita dapat memperkerjakan pembantu, tetapi ini karena kita ingin mencintai mereka dengan benar. Kita ingin mereka mengerti, tidak peduli seberapa kayanya orangtua mereka, suatu hari nanti mereka akan menua, seperti ibu si pemuda. 

Yang terpenting, anak-anak mempelajari bagaimana mengapresiasi usaha dan pengalaman mengalami kesulitan, serta  belajar untuk bekerja dengan orang lain, agar tumbuh rasa empati terhadap orang lain...

Sumber : Grup WA "Gerakan Cinta Imun"

Kamis, 27 November 2014

Meskipun Galak dan Jarang Tersenyum, Bapak adalah My Hero

Bapak adalah salah satu sosok terhebat dalam keluarga saya. Saya sangat bersyukur Allah SWT memberikan seorang bapak yang luar biasa. Meskipun galak, hatinya lembut terhadap anak-anaknya.
Saya Ugi, salah satu reporter magang di Koran Sindo Batam. Saat ini saya jauh dari kedua orangtua, mereka tinggal di Desa Titi Akar, Kecamatan Rupat Utara, Kabupaten Bengkalis, Provinsi Riau, bisa dibilang pelosok.

Sejak lahir hingga sekolah dasar (SD) saya tinggal di Desa Titi Akar, saat itu kedekatan antara saya dan bapak tidak seperti sekarang. Sewaktu saya kecil, bapak adalah sosok yang menakutkan, terlebih lagi jika sedang marah. Walau begitu, tidak semua kesalahan saya membuat bapak marah. Dulu sewaktu saya belajar bersepeda dan selalu jatuh, bapak sama sekali tidak marah. Bapak justru menyuruh saya terus mencoba mengayuh sepeda. Tak berselang lama akhirnya saya bisa bersepeda.

Saat saya melanjutkan Madrasah Tsanawiyah (MTs) di Dumai, saya tinggal bersama kakak sulung yang baru menikah. Saya kembali jarang komunikasi dengan bapak, saat itu saya merasa bapak sangat tidak peduli terhadap saya. Bapak terlihat lebih sayang dan peduli terhadap kakak sulung saya, semua keluh kesah saya seolah tidak digubrisnya.

Saya tetap di Dumai saat melanjutkan Sekolah Menengah Atas (SMA) atas permintaan kedua orangtua, karena mereka khawatir terjadi apa-apa terhadap saya. Saya ikuti kemauan mereka meskipun hati saya menolak. Tibalah saatnya Ujian Nasional (UN), waktu itu saya merengek ke bapak agar sepeda motor di kampung dikirim ke Dumai. Saya ingin menggunakan sepeda motor ke sekolah tanpa harus menggunakan angkot. Bapak tidak ingin saya gagal dalam ujian hanya karena sepeda motor, akhirnya permintaan saya dituruti.

Setelah lulus SMA, saya kuliah di UIN SUSKA Pekanbaru, Riau. Saya mengambil jurusan Ilmu Komunikasi, saat itu saya tidak pernah minta pendapat bapak tentang jurusan yang saya ambil. Saya sempat pulang ke rumah karena perkuliahan belum dimulai, hampir sebulan di rumah.

Di rumah, bapak tidak pernah absen nonton berita. Waktu itu entah mengapa saya ikut nonton berita. Saat jeda iklan, bapak bertanya kepada saya, “Jadi kalau seperti itu harus kuliah di luar negeri ya?” Yang dimaksud bapak adalah menjadi presenter berita. Saya mengiyakan, saat itu saya belum mengetahui bahwa jurusan yang saya ambil termasuk dalam jurnalistik.

Setelah sebulan, saya kembali ke Pekanbaru untuk kuliah. Dari sanalah saya dan bapak mulai dekat, kami sering teleponan, curhat tentang kuliah, tentang kegiatan sehari-hari, hingga organisasi yang saya ikuti. Tanpa diminta pendapat pun, bapak sering memberi nasehat. Memang sejak kecil saya dan kedua kakak perempuan dididik keras, harus mandiri, tidak boleh jadi perempuan cengeng, harus tegar, tidak boleh patah semangat, tanamkan dalam hati untuk terus berjuang.

Salah satu nasehat bapak yang membekas di hati,

"Bapak tidak bergelimang harta, kita bukan orang kaya. Jadi bapak tidak bisa mewariskan materi, hanya nasehat dan pengalaman hidup bapak yang bapak wariskan. Semoga hidup kamu tidak seperti bapak, semoga kehidupan kamu lebih baik dari orangtua."

Tahun 2010, saya, bapak dan saudara bapak melakukan perjalanan ke Kebumen, Jawa Tengah menggunakan bus. Itu adalah hasil rengekan saya selama beberapa tahun yang akhirnya dituruti. Saat itu, seakan langit penuh pelangi.

Selama perjalanan saya baik-baik aja. Namun selang beberapa hari di kampung kelahiran bapak, saya demam tinggi. Setelah pulang dari ziarah makam eyang putri dan eyang kakung, kami mampir ke rumah salah satu keponakan bapak, saat itu hujan lebat. Bapak melihat saya mondar-mandir, dan setelah mengetahui bahwa badan saya panas tinggi, bapak langsung panik. Bapak sampai memaksa keponakannya memanggil dokter yang bertugas di sana.

Karena hari sudah sore, tidak ada lagi dokter yang buka praktek. Lalu saya dibawa ke rumah pribadi dokter walaupun masih hujan. Itu pertama kalinya saya melihat bapak panik dan khawatir dengan keadaan saya. Sepulang dari rumah dokter, bapak memaksa saya untuk makan banyak, minum air putih yang banyak, tidak boleh makan asam dan pedas.

Sejak itu hingga sekarang, saya sangat dekat dengan bapak. Bapak selalu mengkhawatirkan keadaan saya. Apalagi jika saya sedang sakit atau belum makan, bapak bisa marah tapi marahnya dibalut dengan rasa sayang yang sangat besar.

Tahun 2013 sebelum skripsi saya selesai, saya harus menjalani Praktek Kerja Lapangan (PKL). Alhamdulillah saya bisa PKL di Trans7 Jakarta selama dua bulan bersama dua rekan kuliah. Hampir setiap hari bapak menelepon saya hanya untuk bertanya kabar dan memastikan apakah saya sudah makan atau belum. Bapak terus memberi semangat dan terdengar bahagia saat saya menceritakan hal-hal menarik selama berada di studio maupun di kantor Trans7.

Seminggu sebelum saya kembali ke Pekanbaru, saya sakit karena kelelahan. Sebenarnya saya tidak berniat untuk menceritakannya ke orangtua, tetapi waktu itu tiba-tiba Mak menelepon dan tahu saya sakit. Bapak yang sedang mengiris daging ayam dan mendengar saya sakit langsung teriris jari tangannya. Saya sedih waktu itu, karena saya membuat jari bapak luka karena kaget.

Sejak kecil bapak tidak pernah mengekang saya, saya diberi kebebasan untuk menentukan pilihan saya sendiri. Tetapi saya pergunakan kesempatan itu sebaik mungkin, saya tidak ingin mengecewakan orangtua.


Sumber : vemale

Rabu, 26 November 2014

Supir Angkot

ilustrasi
Menyusul insiden nyium mobil tangki 3 minggu lalu walhasil si neng a**a dirawat inap di bengkel. Jadi tiap hari pulang pergi ke toko naik angkot. Sebenernya pengennya sih jalan kaki, jarak 3.5 km kayaknya gak kerasa deh dibanding kemarin jalan di mekkah, maksudnya sih biar sambil olah raga, soalnya secara berat badan udah naik 4kg. Tapi berhubung suami dan si sulung gak ngijinin... yaa sudahlah naik angkot aja.

Ternyata naik angkot itu asik juga...bisa merhatiin orang-orang sekitar. kayak pagi ini, ada anak sekolah berdiri di pinggir jalan, angkotnya berhenti... anak berseragam itu diteriakin sopirnya... pakupatan...dia diam... kemana? tanya sopir lagi... anak itu bertanya... kalau saya bayarnya 2000 boleh naik enggak? sopirnya ketawa... naik aja... ayo naik... anak itu tersenyum... makasih pak... sopirnya bilang doain bapak yaaa...biar ada sisa lebih dari setoran ... kamu sekolah yang pinter... jadi anak yang harus nurut sama orang tua, biar selamat hidupnya... ngerasainkan susah jadi orang gak punya uang.... anak itu jawab iya pak...sopirnya bertanya , cita-cita kamu jadi apa? jadi orang bener pak... kata ibu saya percuma jadi orang hebat kalau gak jadi orang bener... kalau jadi orang bener pasti nanti jadi hebat..... melongo sesaat.... eeeehhh kiriiii pak... kiriiii... kelewatan toko saya.... buru-buru turun bayar... berdua pak sama anak yang bener ini.... langsung turun dari angkot....

Jadilah hari ini cita-cita ku kesampaian jalan kaki dari lampu merah Graha sampai ke Ruko... hatiku riang.... aku punya oleh-oleh berharga buat kedua anakku. ...Alhamdulillah....


oleh : Ernydar Irfan