Jumat, 16 Oktober 2015

Kenapa Bangga Menekan Harga Pedagang Kecil?

Beberapa waktu lalu, saya mengunjungi Pak Ujang (65 tahun), pemilik kios ikan kecil di bilangan Jakarta Pusat. Saya sering ke sana. Kiosnya sangat sederhana, berupa papan kecil seluas 2,5 x 4 meter. Beliau sudah lebih dari 30 tahun berjualan ikan di sana. 
Image result for pedagang miskin
Ilustrasi
Di sudut kanan toko terdapat sebuah tangga menuju lantai dua. Lantai yang memiliki tinggi 1 m merupakan tempat tinggal Pak Ujang dan istri. Tepat saat saya berkunjung, muncullah seorang pembeli yang menggunakan mobil mewah brand Jerman.
Awalnya Si Pembeli membeli makanan ikan seharga Rp 5.000,-
Ia pun berusaha keras menawar. Akhirnya Pak Ujang sepakat menjual Rp 9.000,- per dua bungkus.
Si Pembeli kemudian melihat ikan Koi tiga warna berukuran sekitar 30 cm. Pak Ujang menjual dengan harga Rp. 40.000,- per ekor. Terjadilah tawar-menawar.
Si pembeli terus memaksa ingin memiliki ikan tersebut dengan harga Rp 25.000,-. Katanya, ikan begitu tidak layak dihargai Rp 40.000,-
Pak Ujang terlihat sangat keberatan menjual ikan tersebut di bawah Rp 35.000,-. Namun, saya sendiri menyaksikan betapa kerasnya si pembeli menawar dan memaksa.
Akhirnya Pak Ujang pun luluh dan menjual empat ekor dengan harga yang diinginkan pembeli. ”Ikan ini sudah hampir 1 bulan tidak laku,” Jawabnya setelah saya menanyakan alasannya menjual ikan Koi itu.
Si Pembeli kembali membeli tanaman air yang harusnya berharga Rp 5.000,- per buah. Begitu gigihnya, ia mendapat 4 buah tanaman air dengan uang Rp 10.000,-, sampai-sampai Si Pembeli memasukkan sendiri dua tanaman air tambahan ke plastik.
Tidak berhenti sampai di sana, saat hendak membayar, si pembeli kembali meminta dua ekor ikan kecil seharga Rp 5.000,- per ekor untuk mainan anaknya. Dan Pak Ujang akhirnya memberikan.
Saya merenung. Banyak orang sering sekali berhemat setiap keping rupiah dari si Miskin. Mereka sering mengganggap harga barang dari seorang pedagang kecil atau pasar tradisional tidak pantas dan menawar begitu gigih, lalu kemudian merasa puas karena bisa berhemat setidaknya Rp 500,-
Kemudian mereka berjalan ke mall dan tidak bertanya kepantasan dari harga secangkir kopi Rp 60.000,- atau semangkok bakso seharga Rp. 40.000,- Mereka bahkan membeli dengan bangga dan malu bila menawar.
Mereka menawar dari tukang becak yang harus mengayuh sepeda dengan berat, tetapi tidak pernah memprotes argo taksi yang bergerak tak terkendali.
Setelah itu, mereka akan bicara tentang pengentasan kemiskinan.
Mereka salahkan pemerintah atas data-data kemiskinan yang tidak pernah turun.
Padahal di balik itu, mereka mengeksploitasi Si Miskin.
Mereka berusaha berhemat setiap keping rupiah dari Si Miskin yang bekerja lebih keras, lebih berat, dan di terik panas untuk memberi makan keluarganya.
Namun, mereka menghabiskan uang yang jauh lebih banyak di mall tanpa menanyakan kepantasannya.
Dan sadar ataupun tidak.. mereka mungkin adalah kita. 

(Sumber : Family Guide)

Jumat, 09 Oktober 2015

RIAU DARURAT ASAP

Bagi yang masih bisa menghirup udara segar, mohon perhatiannya untuk saudara-saudara kita di Riau. Mereka masih terancam asap 24 jam entah sampai kapan.
Mari galang bantuan untuk masyarakat Riau dengan donasi Rp 15.000, -/masker N95. Silakan menyumbang kelipatannya.
Masker N95 adalah masker yang dapat menyaring 95% partikel yang ada di udara. Bentuknya setengah bulat dan berwarna putih, terbuat dari bahan solid dan tidak mudah rusak. Masker N95 banyak dipergunakan oleh tenaga medis dalam penanganan flu burung, dll. Untuk bencana alam seperti meletusnya gunung sinabung, masker N95 banyak digunakan.
Distribusi masker akan bekerja sama dengan komunitas Melawan Asap Pekanbaru
Transfer ke:
komunitas Wirausaha Tangan Di Atas (TDA) Serang
Divisi TDA peduli
Transfer ke
BCA an Intan Maria Septiana 2450494961
Konfirmasi sms 087871986148
Nama/total transfer

Jumat, 06 Februari 2015

Panaskan Mesin Anda

inspirasi Jumat...


Panaskan "Mesin" Anda..

suatu ketika ada seorang pemuda yang baru membeli sebuah motor sport dengan kapasitas mesin yang sangat besar. Harganyapun sangat mahal hampir seratus juta. Setiap hari selalu ia rawat dan dipakai jalan2 keliling kota dengan bangganya. 



2 minggu kemudian ia harus pergi keluar kota selama 1 bulan penuh karena ada proyek yang harus dikerjakan. ia pun meninggalkan sepeda motor kesayangannya digarasi sebulan penuh.

Ilustrasi
Sebulan kemudian, sang pemuda kembali kerumahnya. karena kangen luar biasa dengan sang motor, ia pun langsung mengeluarkan motornya dari garasi dan hendak dipakai jalan2 keliling kota. Namun apa yang terjadi, ketika coba distarter, motor tersebut tidak menyala. bahkan sdh coba distarter sampai 1 jampun, motor tetap tidak mau menyala.

Karena kesal sang pemudapun membawa motornya ke bengkel resmi dan berkata " kok bisa ya, motor sport mesinnya bagus, kapasitasnya tinggi, harganya mahal lagi kok bisa mogok toh, padahal baru saya tinggal sebulan loh"

Sang mekanik motor dgn tersenyum bertanya apakah motor tsb selama sebulan penuh, pernah dihidupkan atau dipanaskan mesinnya. sang pemudapun menggeleng, tidak pernah sama sekali. Sang mekanik sambil tersenyum berkata" sebagus apapun kualitas mesin motornya, jika tidak pernah dipakai atau dipanasin dalam waktu yang lama, pasti akan mogok karena semua onderdil dalam mesin diciptakan untuk bergerak".

Sahabat seringkali dalam hidup, kita merasa dalam kondisi "mogok". sulit berkembang, pendapatan pas-pasan, jenuh karena rutinitas. bisa jadi itu karena kita jarang "panaskan mesin" yang Tuhan anugrahkan pada kita. yaitu "mesin fisik", "mesin kecerdasan" dan "mesin hati".

So, mulai sekarang panaskan "mesin fisik" dgn jaga pola makan, panaskan "mesin kecerdasan" dengan selalu berinovasi, panaskan "mesin hati" dengan selalu menebar kebaikan.

Semoga bermanfaat 

Sumber : Sumedi Abdul Latief, Lc.

Kamis, 11 Desember 2014

Masih Edisi di Angkot

Ibu (Ilustrasi)
Baru berapa saat saya naik, kiri sep... kata ibu tua di depanku sambil berkemas. Mobil pun minggir. Sopirnya masih muda, mungkin belum sampai 25 usianya.

Sopirnya bertanya : Ibu turunnya bisa? pelan-pelan aja bu.... katanya.

Si ibu menjawab, turunnya mah pelan pelan bisa sep, tapi nyeberangnya ibu takut.

Sopir pun turun dari mobil menuju pintu belakang penumpang, sini bu saya tolongin katanya. Sopir itu membimbing ibu tua itu turun, lalu membantu menyeberangkan pelan pelan karena ibu tua itu jalan tertatih tatih.

Setelah kembali ke mobil, saya iseng bertanya... Ibu nya mas?

Bukan... jawabnya..

Oh.. saya kira ibunya, manggilnya sep..saya kira mas nya namanya asep.. kataku ringan. Baik banget mas mau ngurusin sampai nyebrangin segala...

Kalau itu ibu saya bu, gak bakalan saya biarin pergi-pergi sendiri. Kalau jatuh, ketabrak, atau sakit di jalan gimana coba? Saya suka sedih bu lihat ibu-ibu tua, ngapa-ngapain sendirian. Padahal dulu pasti lagi mudanya pergi-pergi anaknya selalu dibawa, dijagain takut anaknya jatuh , diurusin siang malem waktu anaknya sakit. ya gak bu? tanyanya....

Iya jawabku singkat... (Tenggorokan rasa terkunci)

Iya bu..Orang kadang gak ngehargain ibunya... kalau senang lupa, kalau susah pasti nyari ibunya.... padahal bu.. saya ini gak punya ibu, ibu saya meninggal dari saya kecil. Saya diasuh orang lain, barangkali kalau saya punya ibu, nasib saya gak begini... karena pasti ada ibu yang ngedoain supaya jadi anak yang sukses. Orang lain di doain ibunya, belum tentu juga inget dan sadar kalau itu tuh hasil doa sama jeripayah ibunya... yaa gak bu?

Iya.. jawabku lemah...

Kiri depan yaa... saya doain mas selalu dimudahkan rejekinya dan bisa sukses yaa mas. jangan lupa ibunya dikirimin doa. makasih yaa...

Buru buru ambil Hp di tas... Assalamu'alaikum. .. mama..lagi apa? sehat ma? sama siapa di rumah? .....

# maafkan aku mama..


Sumber : Ernydar Irfan

Senin, 08 Desember 2014

Tak Perlu Menunggu Kaya Untuk Bahagia dan Bersedekah

Tak Perlu Menunggu Kaya Uuntuk Sedekah
Bubu... udah 3x angkot lewat.. kenapa gak naik-naik... aku tersenyum...
Angkotnya masih banyak penumpangnya dek... sabar ya...... jawabku...
Emang kenapa bubu? tanyanya lagi
Bubu nunggu yang angkotnya kosong...
Kenapa bubu? kalau kosong kan bahaya... nanti ada orang jahat...
Saya kembali tersenyum dan mengusap kepala si bungsuku... Adek... jalan dari sini ke toko cuma 3 kilo, jalannya lurus doang, ramai dan cenderung padat. In Sya Allah aman 
Tapi kan ini makin siang, bubu gak kesiangan nanti buka tokonya?
Waktu itu milik Allah nak... percayalah semua akan Allah atur selama semua kita niatkan karena Allah.
Tapi kenapa bubu nunggu yang kosong
Karena bubu pengen jadi "tangan" untuk orang orang yang berharap..
Tidak berapa lama, datanglah angkot kosong, kami berdua naik...
Assalamualaikum pak... sepi tarikannya? tanyaku...
Waalaikumsalam bu... iya nih bu...dari tadi muter-muter belum dapet penumpang, buat nambah beli bensin belum ada, apalagi ngejar setoran... dari tadi saya berdoa... mudah-mudahan ada penumpang. Alhamdulillah ibu niih naik ....
Alhamdulillah pak... mudah-mudahan di depan banyak penumpangnya yaa pak... Aamiin...
Di depan perumahan taman puri Alhamdulillah 2 orang naik lagi... aku dan anakku berpandangan dan tersenyum.
Tidak berapa lama kami berdua turun...
Aku bertanya pada anakku...
Adek ngerti maksud tindakan bubu tadi? Si bungsu tersenyum dan mengangguk.
Sambil membuka gembok ruko saya berkata... Adek, kita gak perlu nunggu kaya untuk bisa bahagia dan bersedekah. Ada uang, beri uang, ada waktu, beri waktu, bahkan ketika kita cuma punya doa, maka berikanlah doa.
Melakukan sesuatu hal kecil untuk membuat orang lain bahagia itu pun bisa membuat kita jauh lebih bahagia.Si bungsuku tersenyum...
Yaa Allah semoga anak-anakku adalah anak anak yang mampu menerima hikmah dengan baik dan kelak menjadi pemimpin kaum shalihin...
‪#‎Kebahagiaan‬ dalam kesederhanaan...

Sumber : Ernydar Irfan