Kamis, 11 Desember 2014

Masih Edisi di Angkot

Ibu (Ilustrasi)
Baru berapa saat saya naik, kiri sep... kata ibu tua di depanku sambil berkemas. Mobil pun minggir. Sopirnya masih muda, mungkin belum sampai 25 usianya.

Sopirnya bertanya : Ibu turunnya bisa? pelan-pelan aja bu.... katanya.

Si ibu menjawab, turunnya mah pelan pelan bisa sep, tapi nyeberangnya ibu takut.

Sopir pun turun dari mobil menuju pintu belakang penumpang, sini bu saya tolongin katanya. Sopir itu membimbing ibu tua itu turun, lalu membantu menyeberangkan pelan pelan karena ibu tua itu jalan tertatih tatih.

Setelah kembali ke mobil, saya iseng bertanya... Ibu nya mas?

Bukan... jawabnya..

Oh.. saya kira ibunya, manggilnya sep..saya kira mas nya namanya asep.. kataku ringan. Baik banget mas mau ngurusin sampai nyebrangin segala...

Kalau itu ibu saya bu, gak bakalan saya biarin pergi-pergi sendiri. Kalau jatuh, ketabrak, atau sakit di jalan gimana coba? Saya suka sedih bu lihat ibu-ibu tua, ngapa-ngapain sendirian. Padahal dulu pasti lagi mudanya pergi-pergi anaknya selalu dibawa, dijagain takut anaknya jatuh , diurusin siang malem waktu anaknya sakit. ya gak bu? tanyanya....

Iya jawabku singkat... (Tenggorokan rasa terkunci)

Iya bu..Orang kadang gak ngehargain ibunya... kalau senang lupa, kalau susah pasti nyari ibunya.... padahal bu.. saya ini gak punya ibu, ibu saya meninggal dari saya kecil. Saya diasuh orang lain, barangkali kalau saya punya ibu, nasib saya gak begini... karena pasti ada ibu yang ngedoain supaya jadi anak yang sukses. Orang lain di doain ibunya, belum tentu juga inget dan sadar kalau itu tuh hasil doa sama jeripayah ibunya... yaa gak bu?

Iya.. jawabku lemah...

Kiri depan yaa... saya doain mas selalu dimudahkan rejekinya dan bisa sukses yaa mas. jangan lupa ibunya dikirimin doa. makasih yaa...

Buru buru ambil Hp di tas... Assalamu'alaikum. .. mama..lagi apa? sehat ma? sama siapa di rumah? .....

# maafkan aku mama..


Sumber : Ernydar Irfan

Senin, 08 Desember 2014

Tak Perlu Menunggu Kaya Untuk Bahagia dan Bersedekah

Tak Perlu Menunggu Kaya Uuntuk Sedekah
Bubu... udah 3x angkot lewat.. kenapa gak naik-naik... aku tersenyum...
Angkotnya masih banyak penumpangnya dek... sabar ya...... jawabku...
Emang kenapa bubu? tanyanya lagi
Bubu nunggu yang angkotnya kosong...
Kenapa bubu? kalau kosong kan bahaya... nanti ada orang jahat...
Saya kembali tersenyum dan mengusap kepala si bungsuku... Adek... jalan dari sini ke toko cuma 3 kilo, jalannya lurus doang, ramai dan cenderung padat. In Sya Allah aman 
Tapi kan ini makin siang, bubu gak kesiangan nanti buka tokonya?
Waktu itu milik Allah nak... percayalah semua akan Allah atur selama semua kita niatkan karena Allah.
Tapi kenapa bubu nunggu yang kosong
Karena bubu pengen jadi "tangan" untuk orang orang yang berharap..
Tidak berapa lama, datanglah angkot kosong, kami berdua naik...
Assalamualaikum pak... sepi tarikannya? tanyaku...
Waalaikumsalam bu... iya nih bu...dari tadi muter-muter belum dapet penumpang, buat nambah beli bensin belum ada, apalagi ngejar setoran... dari tadi saya berdoa... mudah-mudahan ada penumpang. Alhamdulillah ibu niih naik ....
Alhamdulillah pak... mudah-mudahan di depan banyak penumpangnya yaa pak... Aamiin...
Di depan perumahan taman puri Alhamdulillah 2 orang naik lagi... aku dan anakku berpandangan dan tersenyum.
Tidak berapa lama kami berdua turun...
Aku bertanya pada anakku...
Adek ngerti maksud tindakan bubu tadi? Si bungsu tersenyum dan mengangguk.
Sambil membuka gembok ruko saya berkata... Adek, kita gak perlu nunggu kaya untuk bisa bahagia dan bersedekah. Ada uang, beri uang, ada waktu, beri waktu, bahkan ketika kita cuma punya doa, maka berikanlah doa.
Melakukan sesuatu hal kecil untuk membuat orang lain bahagia itu pun bisa membuat kita jauh lebih bahagia.Si bungsuku tersenyum...
Yaa Allah semoga anak-anakku adalah anak anak yang mampu menerima hikmah dengan baik dan kelak menjadi pemimpin kaum shalihin...
‪#‎Kebahagiaan‬ dalam kesederhanaan...

Sumber : Ernydar Irfan

Jumat, 05 Desember 2014

Janganlah Melihat Yang Tidak Ada

Ilustrasi
Dongeng motivasi ini menceritakan seorang anak yang kehilangan uang sebesar Rp 10.000. Dia begitu sedihnya dan menangis sejadi-jadinya. Paman anak tersebut merasa kasihan, kemudian dia menghampiri anak itu.
“Kenapa kamu menangis?” Tanya pamannya dengan penuh kasih sayang.
“Uang saya hilang. Rp 10.000.” katanya sambil terisak-isak.
“Tenang saja, nich paman ganti yah…paman kasih Rp 10.000 buat kamu. Jangan menangis yah!” kata pamannya sambil menyerahkan selembar uang Rp10.000. Namun, sia anak tetap saja menangis. Kenapa?
“Kenapa kamu masih menangis saja? Kan sudah diganti?” tanya pamannya.
“Kalau tidak hilang… uang saya sekarang Rp 20.000.” kata anak itu dan terus menangis.
Pamannya bingung…
“Terserah kamu saja dech….”, katanya sambil pergi.
Ayahnya yang baru pulang kantor mendapati anaknya masih menangis.
“Kenapa sayang? Koq menangis sich. Lihat mata kamu, sudah bengkak begitu. Nangis dari tadi yah?” tanyanya sambil menyeka air mata anaknya.
“Uang saya hilang Rp 10.000.” kata anaknya mengadu.
“Ooohhh. Lho itu punya uang Rp 10.000? Katanya hilang?” tanya ayahnya yang
heran karena dia melihat anaknya memegang uang Rp 10.000
“Ini dari paman…. uang saya hilang. Kalau tidak hilang saya punya Rp 20.000.” jawabnya sambil terus menangis.
“Sudahlah…. nih ayah ganti. Ayah ganti dengan uang yang lebih besar. Ayah kasih kamu Rp 20.000. Jangan menangis lagi yah!” kata ayahnya sambil menyerahkan selembar uang Rp 20.000. Si anak menerima uang itu. Tetapi masih tetap saja menangis. Ayahnya heran, kemudian bertanya lagi.
“Kenapa masih menangis saja? Kan sudah diganti?”
“Kalau tidak hilang, uang saya Rp 50.000.”
Ayahnya hanya geleng-geleng kepala.
“Kalau gitu dikasih berapa pun, kamu akan nangis terus.” sambil mengendong anaknya.
***
Dongeng motivasi ini nyata? Tidak juga, ini hanya rekayasa. Dalam kenyataannya banyak orang yang memiliki sikap seperti anak tadi. Dia hanya melihat apa yang tidak ada, dia hanya melihat apa yang kurang, tanpa melihat sebenarnya dia sudah memiliki banyak hal. Sifat manusia yang selalu merasa kurang padahal nikmat Allah begitu banyaknya sudah dia terima.
Banyak orang mengeluh tidak bisa bisnis, sebab dia tidak punya uang untuk modal. Padahal modal hanyalah salah satu yang diperlukan dalam bisnis. Bisa jadi dia sudah punya waktu, punya tenaga, dan punya ilmu untuk bisnis. Namun dia tidak juga bertindak sebab dia hanya fokus melihat kekurangan, bukannya bertindak dengan memanfaatkan apa yang ada.
Mulailah Bertindak Dari Yang Sudah Ada . Bersyukurlah jika Anda merasa tersindir dengan dongeng motivasi diatas, artinya Anda perlu berubah sekarang.


Sumber : Komunitas TDA Serang Cilegon

Kamis, 04 Desember 2014

Kebenaran Tak Perlu Pembenaran

Ilustrasi
Karena kebenaran tidak perlu pembenaran, pembuktian adalah proses, menjaga lisan dan meluruskan fitnah adalah sama-sama kewajiban, maka berhentilah berdebat kusir dengan bahasa - bahasa yang culas apalagi memenggal ayat tanpa kaidah yang benar.

Berdebat gunakan fakta bukan hanya logika, logika harus diiringi iman dan taqwa karena logika manusia terbatas sedang tuntunan hidup yang Allah SWT berikan itu sudah jelas kebenarannya.

Cerdas itu perlu ..Bijak itu sangat baik, untuk bisa bijak perlu cerdas, bila cerdas harus bijak...

Selamat beraktifitas, semoga aktifitas kita hari ini bisa dipertanggunjawabkan kelak untuk apa waktu yang Allah SWT berikan telah kita gunakan...

Semangat Pagi...

Sumber : Ernydar Irfan