![]() |
| Pesan Untuk Kita |
Selasa, 17 Juli 2018
Jalan Kehidupan
Senin, 02 November 2015
Attitude adalah segalanya
| ilustrasi |
Jumat, 16 Oktober 2015
Kenapa Bangga Menekan Harga Pedagang Kecil?
| Ilustrasi |
Ia pun berusaha keras menawar. Akhirnya Pak Ujang sepakat menjual Rp 9.000,- per dua bungkus.
Tidak berhenti sampai di sana, saat hendak membayar, si pembeli kembali meminta dua ekor ikan kecil seharga Rp 5.000,- per ekor untuk mainan anaknya. Dan Pak Ujang akhirnya memberikan.
Kemudian mereka berjalan ke mall dan tidak bertanya kepantasan dari harga secangkir kopi Rp 60.000,- atau semangkok bakso seharga Rp. 40.000,- Mereka bahkan membeli dengan bangga dan malu bila menawar.
Jumat, 06 Februari 2015
Panaskan Mesin Anda
| Ilustrasi |
Sabtu, 29 November 2014
Jangan Terlalu Cepat Menilai Orang
Ayah dari anak yang akan dioperasi menghampirinya: "Kenapa lama sekali anda sampai ke sini? Apa anda tidak tau, nyawa anak saya terancam jika tdk segera dioperasi?" labrak si ayah.
Dokter itu tersenyum, "Maaf, saya sedang tidak di RS tadi, tapi saya secepatnya ke sini setelah ditelepon pihak RS."
| Ilustrasi |
Sambil menanggung malu Ayah tersebut terdiam ...
Tp maklumilah bahwa tiap jiwa di sekeliling kita juga mungkin sekali menyimpan cerita kehidupan yang tak terbayangkan di benak kita...
Αda kasih sayang di balik setiap amarah..
Αda pengorbanan di balik setiap ketidak pedulian..
Αda harapan di balik setiap kesakitan..
Αda kekecewaan di balik setiap derai tawa..
Senyum mampu membasuh setiap luka ..
Maafkanlah..
Maaf mampu menyembuhkan semua rasa sakit..
Dan Jadilah Pemaaf..
Jumat, 28 November 2014
Calon Manajer dan Direktur
Seorang anak muda mendaftar utk posisi manajer di sebuah perusahaan besar.
Dia lulus interview awal, dan sekarang akan bertemu dengan direktur untuk interview terakhir.
Direktur mengetahui bahwa dari CVnya, si pemuda memiliki prestasi akademik yang baik. Kemudian dia bertanya, "apakah kamu mendapatkan beasiswa dari sekolah?"
Si pemuda menjawab, "tidak."
"Apakah ayahmu yang membayar uang sekolah ?"
"Ayah saya meninggal ketika saya berumur 1 tahun, ibu saya yang membayarkannya"
"Dimana ibumu bekerja ?"
"Ibuku bekerja sebagai tukang cuci."
Sang direktur kemudian meminta si pemuda untuk memperlihatkan tangannya.
Si pemuda pun menunjukkan tangannya yang mulus dan halus.
"Apakah kamu pernah membantu ibumu mencuci baju ?"
"Tidak pernah. Ibuku selalu ingin aku belajar dan membaca banyak buku. Dan memang, ibuku dapat mencuci baju lebih cepat dariku."
Sang direktur kemudian berkata, "baik, sekarang aku memiliki permintaan. Ketika kamu pulang ke rumah hari ini, pergi dan cuci tangan ibumu. Kemudian temui aku esok hari."
Si pemuda merasa kemungkinannya mendapatkan pekerjaan ini sangat tinggi. Ketika pulang, dia meminta ibunya untuk membiarkan dirinya membersihkan tangan ibunya. Ibunya merasa heran, senang tetapi dengan perasaan campur aduk, dia memperlihatkan tangannya ke anaknya.
Si pemuda kaget ketika membersihkan tangan ibunya perlahan. Airmatanya tumpah. Ini pertama kalinya dia menyadari tangan ibunya sangat keriput dan banyak luka. Beberapa luka cukup menyakitkan. Ibunya merintih ketika dia menyentuhnya.
Ini pertama kalinya si pemuda menyadari bahwa sepasang tangan inilah yang setiap hari mencuci baju banyak orang agar dirinya bisa sekolah. Luka di tangan ibunya merupakan harga yang harus dibayar ibunya untuk pendidikannya, sekolahnya, dan masa depannya...
Setelah membersihkan tangan ibunya, si pemuda diam-diam mencuci semua pakaian tersisa untuk ibunya,
Malam itu, ibu dan anak itu berbincang hingga larut malam.
Pagi berikutnya, si pemuda pergi ke kantor direktur.
Sang direktur melihat ada air mata menetes di pipi si pemuda.
Kemudian dia bertanya, "dapatkah kamu ceritakan apa yang kamu lakukan dan kamu pelajari tadi malam di rumahmu ?"
Si pemuda menjawab,"saya membersihkan tangan ibu saya dan juga menyelesaikan cuciannya..."
"Saya kini mengetahui apa itu apresiasi. Tanpa ibu saya, saya tidak akan menjadi diri saya seperti sekarang. Dengan membantu ibu saya, baru sekarang saya mengetahui betapa sukar dan sulitnya melakukan sesuatu sendiri. Dan saya mulai mengapresiasi betapa pentingnya dan berharganya bantuan dari keluarga."
Sang direktur berkata,"inilah yang saya cari di dalam diri seorang manajer. Saya ingin merekrut seseorang yang dapat mengapresiasi bantuan dari orang lain, seseorang yang mengetahui penderitaan orang lain ketika mengerjakan sesuatu, dan seseorang yang tidak menempatkan uang sebagai tujuan utama dari hidupnya"
"Oleh sebab itu, aku putuskan: kamu diterima.."
*****
Saudaraku...
Seorang anak yang selalu dilindungi dan terbiasa diberikan apapun yang mereka inginkan akan mengembangkan " mental ke'aku'an" dan selalu menempatkan dirinya sebagai prioritas. Dia akan tidak peduli dengan jerih payah orangtuanya.
Apabila kita tipe orang tua seperti ini, sebenarnya kita menunjukkan rasa cinta kita atau menghancurkan anak-anak kita ?
Kita dapat membiarkan anak-anak tinggal di rumah besar, makan makanan enak, menonton dari TV layar besar. Tetapi ketika kita membersihkan rumah, biarkan mereka mengalaminya juga. Setelah makan, biarkan mereka mencuci piring mereka dengan saudara-saudara mereka.
Ini bukan masalah apakah kita dapat memperkerjakan pembantu, tetapi ini karena kita ingin mencintai mereka dengan benar. Kita ingin mereka mengerti, tidak peduli seberapa kayanya orangtua mereka, suatu hari nanti mereka akan menua, seperti ibu si pemuda.
Yang terpenting, anak-anak mempelajari bagaimana mengapresiasi usaha dan pengalaman mengalami kesulitan, serta belajar untuk bekerja dengan orang lain, agar tumbuh rasa empati terhadap orang lain...
Sumber : Grup WA "Gerakan Cinta Imun"
Kamis, 27 November 2014
Meskipun Galak dan Jarang Tersenyum, Bapak adalah My Hero
Sejak lahir hingga sekolah dasar (SD) saya tinggal di Desa Titi Akar, saat itu kedekatan antara saya dan bapak tidak seperti sekarang. Sewaktu saya kecil, bapak adalah sosok yang menakutkan, terlebih lagi jika sedang marah. Walau begitu, tidak semua kesalahan saya membuat bapak marah. Dulu sewaktu saya belajar bersepeda dan selalu jatuh, bapak sama sekali tidak marah. Bapak justru menyuruh saya terus mencoba mengayuh sepeda. Tak berselang lama akhirnya saya bisa bersepeda.
Saat saya melanjutkan Madrasah Tsanawiyah (MTs) di Dumai, saya tinggal bersama kakak sulung yang baru menikah. Saya kembali jarang komunikasi dengan bapak, saat itu saya merasa bapak sangat tidak peduli terhadap saya. Bapak terlihat lebih sayang dan peduli terhadap kakak sulung saya, semua keluh kesah saya seolah tidak digubrisnya.
Saya tetap di Dumai saat melanjutkan Sekolah Menengah Atas (SMA) atas permintaan kedua orangtua, karena mereka khawatir terjadi apa-apa terhadap saya. Saya ikuti kemauan mereka meskipun hati saya menolak. Tibalah saatnya Ujian Nasional (UN), waktu itu saya merengek ke bapak agar sepeda motor di kampung dikirim ke Dumai. Saya ingin menggunakan sepeda motor ke sekolah tanpa harus menggunakan angkot. Bapak tidak ingin saya gagal dalam ujian hanya karena sepeda motor, akhirnya permintaan saya dituruti.
Setelah lulus SMA, saya kuliah di UIN SUSKA Pekanbaru, Riau. Saya mengambil jurusan Ilmu Komunikasi, saat itu saya tidak pernah minta pendapat bapak tentang jurusan yang saya ambil. Saya sempat pulang ke rumah karena perkuliahan belum dimulai, hampir sebulan di rumah.
Di rumah, bapak tidak pernah absen nonton berita. Waktu itu entah mengapa saya ikut nonton berita. Saat jeda iklan, bapak bertanya kepada saya, “Jadi kalau seperti itu harus kuliah di luar negeri ya?” Yang dimaksud bapak adalah menjadi presenter berita. Saya mengiyakan, saat itu saya belum mengetahui bahwa jurusan yang saya ambil termasuk dalam jurnalistik.
Setelah sebulan, saya kembali ke Pekanbaru untuk kuliah. Dari sanalah saya dan bapak mulai dekat, kami sering teleponan, curhat tentang kuliah, tentang kegiatan sehari-hari, hingga organisasi yang saya ikuti. Tanpa diminta pendapat pun, bapak sering memberi nasehat. Memang sejak kecil saya dan kedua kakak perempuan dididik keras, harus mandiri, tidak boleh jadi perempuan cengeng, harus tegar, tidak boleh patah semangat, tanamkan dalam hati untuk terus berjuang.
Salah satu nasehat bapak yang membekas di hati,
"Bapak tidak bergelimang harta, kita bukan orang kaya. Jadi bapak tidak bisa mewariskan materi, hanya nasehat dan pengalaman hidup bapak yang bapak wariskan. Semoga hidup kamu tidak seperti bapak, semoga kehidupan kamu lebih baik dari orangtua."
Tahun 2010, saya, bapak dan saudara bapak melakukan perjalanan ke Kebumen, Jawa Tengah menggunakan bus. Itu adalah hasil rengekan saya selama beberapa tahun yang akhirnya dituruti. Saat itu, seakan langit penuh pelangi.
Selama perjalanan saya baik-baik aja. Namun selang beberapa hari di kampung kelahiran bapak, saya demam tinggi. Setelah pulang dari ziarah makam eyang putri dan eyang kakung, kami mampir ke rumah salah satu keponakan bapak, saat itu hujan lebat. Bapak melihat saya mondar-mandir, dan setelah mengetahui bahwa badan saya panas tinggi, bapak langsung panik. Bapak sampai memaksa keponakannya memanggil dokter yang bertugas di sana.
Karena hari sudah sore, tidak ada lagi dokter yang buka praktek. Lalu saya dibawa ke rumah pribadi dokter walaupun masih hujan. Itu pertama kalinya saya melihat bapak panik dan khawatir dengan keadaan saya. Sepulang dari rumah dokter, bapak memaksa saya untuk makan banyak, minum air putih yang banyak, tidak boleh makan asam dan pedas.
Sejak itu hingga sekarang, saya sangat dekat dengan bapak. Bapak selalu mengkhawatirkan keadaan saya. Apalagi jika saya sedang sakit atau belum makan, bapak bisa marah tapi marahnya dibalut dengan rasa sayang yang sangat besar.
Tahun 2013 sebelum skripsi saya selesai, saya harus menjalani Praktek Kerja Lapangan (PKL). Alhamdulillah saya bisa PKL di Trans7 Jakarta selama dua bulan bersama dua rekan kuliah. Hampir setiap hari bapak menelepon saya hanya untuk bertanya kabar dan memastikan apakah saya sudah makan atau belum. Bapak terus memberi semangat dan terdengar bahagia saat saya menceritakan hal-hal menarik selama berada di studio maupun di kantor Trans7.
Seminggu sebelum saya kembali ke Pekanbaru, saya sakit karena kelelahan. Sebenarnya saya tidak berniat untuk menceritakannya ke orangtua, tetapi waktu itu tiba-tiba Mak menelepon dan tahu saya sakit. Bapak yang sedang mengiris daging ayam dan mendengar saya sakit langsung teriris jari tangannya. Saya sedih waktu itu, karena saya membuat jari bapak luka karena kaget.
Sejak kecil bapak tidak pernah mengekang saya, saya diberi kebebasan untuk menentukan pilihan saya sendiri. Tetapi saya pergunakan kesempatan itu sebaik mungkin, saya tidak ingin mengecewakan orangtua.
Sumber : vemale
Rabu, 26 November 2014
Supir Angkot
![]() |
| ilustrasi |
Ternyata naik angkot itu asik juga...bisa merhatiin orang-orang sekitar. kayak pagi ini, ada anak sekolah berdiri di pinggir jalan, angkotnya berhenti... anak berseragam itu diteriakin sopirnya... pakupatan...dia diam... kemana? tanya sopir lagi... anak itu bertanya... kalau saya bayarnya 2000 boleh naik enggak? sopirnya ketawa... naik aja... ayo naik... anak itu tersenyum... makasih pak... sopirnya bilang doain bapak yaaa...biar ada sisa lebih dari setoran ... kamu sekolah yang pinter... jadi anak yang harus nurut sama orang tua, biar selamat hidupnya... ngerasainkan susah jadi orang gak punya uang.... anak itu jawab iya pak...sopirnya bertanya , cita-cita kamu jadi apa? jadi orang bener pak... kata ibu saya percuma jadi orang hebat kalau gak jadi orang bener... kalau jadi orang bener pasti nanti jadi hebat..... melongo sesaat.... eeeehhh kiriiii pak... kiriiii... kelewatan toko saya.... buru-buru turun bayar... berdua pak sama anak yang bener ini.... langsung turun dari angkot....
Jadilah hari ini cita-cita ku kesampaian jalan kaki dari lampu merah Graha sampai ke Ruko... hatiku riang.... aku punya oleh-oleh berharga buat kedua anakku. ...Alhamdulillah....
oleh : Ernydar Irfan
Selasa, 25 November 2014
Cara Allah Mendistribusikan Rezeki
Selesai melaksanakan shalat Dzuhur berjama'ah di Masjid Jami' Al Hidayah, Jl.Tebet Timur Dalam, sambil menunggu hujan reda akupun merebahkan tubuh ini di lembutnya karpet hijau yg masih baru. Aroma kebaruannya masih begitu terasa.Hujanpun perlahan mereda. Akupun melangkahkan kaki nenuju depan masjid dimana sandal tuaku tergeletak sendirian. Ya sendirian karena jama'ah sudah bubar sebelum hujan turun.
Kira-kira 2 meter dari tempat sandal tuaku terdapat tiga orang penjual jeliling. Bakso Malang disebelah kiri, Bakso di tengah dan Bakso Malang lagi di sebelah kanannya.
Ditengah gemerintik hujan, nafsu makanku pun bergejolak. Perlahan aku melangkah mendekati ketiga pedagang keliling tersebut.
Satu demi satu ku amati. Pertama tukang bakso. Baksonya yang besar menggugah seleraku. Tapi ku abaikan untuk kemudian melihat Bakso Malang di sebelah kiri. Perlahan kaki ini melangkah mendekatinya. Tukang Bakso Malang perlahan berkata,"Bakso Malang Pak!"
Walau perlahan ditiup angin, aku masih bisa mendengar jelas suaranya. Tapi kaki ini terus melangkah menuju tukang Bakso Malang yang satunya lagi. Dan aku berkata,"Satu Bang!"
Setelah pesanan siap ditangan, akupun melangkah ke pelatatan masjid, siap untuk nenyantap semangkok Bakso Malang.
Tiba-tiba saja pertanyaan ini muncul,"Mengapa aku memesan ke tukang Bakso Malang yang ini dan bukan yang itu? Padahal kedua jenis makanan yang disajikan PERSIS SAMA !
SUBHABALLAH !! ALLAHU AKBAR !!
Keherananku pun spontan terjawab ketika ada dua orang pembeli menyerahkan mangkok lalu membayar kepada penjual Bakso Malang pertama. Rupanya penjual Bakso Malang kedua belum mendapat pembeli.
Begitulah cara Allah mengantarkan rezeki kepada hamba-hambaNya. Dan tak pernah tertukar rezeki untuk masing-nasing orang. "Lalu nikmat Tuhanmu manakah lagi yang kalian dustakan?"
oleh : Valentino Dinsi
Show must go on...
| Ilustrasi |
saya persilakan beliau masuk dan duduk. segelas air dan beberapa butir kurma saya sajikan untuk beliau.
ibu bawa kue apa? gemblong, getuk, bintul, gembleng bu. saya tersenyum... saya nanti beli kue ibu... tapi ibu duduk dulu, minum dulu, istirahat dulu, muka ibu sudah pucat.
Dia mengangguk. kepala saya sakit bu.. pusing, tapi harus cari uang. anak saya sakit, suami saya sakit, dirumah hari ini beras udah gak ada sama sekali. makanya saya paksain jualan katanya sambil memegang keningnya.. air matanya mulai jatuh. saya cuma bisa memberinya sehelai tisu... sekarang makan makin susah bu.... kemarin aja beras gak kebeli... apalagi sekarang... katanya bensin naik.. apa apa serba naik.. saya udah 3 bulan cuma bisa bikin bubur.. kalau masak nasi gak cukup. hari ini jualan gak laku, nawarin orang katanya gak jajan dulu. apa apa pada mahal katanya uang belanjanya pada enggak cukup.
anak ibu sakit apa? saya bertanya... gak tau ibu..batuknya berdarah... saya terpana... ibu.. ibu harus bawa anak ibu ke puskesmas kan ada BPJS... dia cuma tertunduk.. saya bawa anak saya pakai apa bu? gendong gak kuat.. jalannya jauh.. naik ojek gak punya uang...
ini ibu kue bikin sendiri? enggak bu... ini saya ngambil jawabnya. terus ibu penghasilannya dari sini aja? dia mengangguk lemah... berapa ibu dapet setiap hari? gak pasti bu... ini kue untungnya 100-300 perak, bisa dapet 4ribu -12 ribu paling banyak. Kali ini air mata saya yang mulai mengalir...... ibu pulang jam berapa jualan? jam 2.. saya gak bisa lama lama bu.. soalnya uangnya buat beli beras.. suami sama anak saya belum makan. Saya gak mau minta minta, saya gak mau nyusahin orang.
Ibu, kue-kue ini tolong ibu bagi-bagi di jalan, ini beli beras buat 1 bulan, ini buat 10x bulak balik naik ojek bawa anak ibu berobat, ini buat modal ibu jualan sendiri. ibu sekarang pulang saja.. bawa kurma ini buat pengganjal lapar...
Ibu itu menangis... dia pindah dari kursi ke lantai, dia bersujud tak sepatah katapun keluar lalu dia kembalikan uang saya. kalau ibu mau beli.. beli lah kue saya. tapi selebihnya enggak bu... saya malu.... saya pegang erat tangannya... ibu... ini bukan buat ibu... tapi buat ibu saya... saya melakukan bakti ini untuk ibu saya, agar dia merasa tidak sia sia membesarkan dan mendidik saya... tolong di terima...
Saya bawa keranjang jualannya... saat itu aku memegang lengannya dan saya menyadari dia demam tinggi. ibu pulang ya... dia cuma bercucuran airmata lalu memeluk saya... bu.. saya gak mau kesini lagi... saya malu.... ibu gak doyan kue jualan saya... ibu cuma kasihan sama saya... saya malu....saya cuma bisa tersenyum... ibu saya doyan kue jualan ibu, tapi saya kenyang... sementara ibu di luar pasti banyak yang lapar dan belum tentu punya makanan. sekarang ibu pulang yaa...
saya bimbing beliau menyeberang jalan, lalu saya naikkan angkot... beliau terus berurai air mata...
lalu saya masuk lagi ke toko, mebuka buka FB saya dan membaca status orang orang berduit yang menjijikan. ....the show must go on...
oleh : Ernydar Irfan


