Apakah Anda tahu tentang ciri-ciri orang yang mendapatkan hidayah dari Allah? Mari kita simak penjelasannya dari Ust Abdul Shomad tentang Ciri-Ciri Orang Yang Mendapat Hidayah
Kamis, 30 September 2021
Kamis, 14 Mei 2020
Selasa, 17 Juli 2018
Jalan Kehidupan
![]() |
| Pesan Untuk Kita |
Banyak orang bilang bahwa hidup itu adalah sebuah proses, proses dari tiada menjadi ada lalu kembali tiada. Dalam proses kehidupan ada beberapa pilihan jalan, ratusan, ribuan atau bahkan jutaan jalan yang bisa dijadikan tumpuan berpijak. Pilihan jalan dengan berbagai macam profesi. ada yang menjadi karyawan, wiraswasta, penulis, penerjemah, pedagang, pebisnis dan lain-lain.
Diantara pilihan-pilihan hidup tersebut akan mengerucut menjadi 2 pilihan utama. Pilihan utama yang akan membuat kita berpikir lebih keras untuk tetap menjaga pilihan kita tetap berada dalam jalur-Nya. 2 pilihan yang akan berakhir pada 2 kondisi, kondisi terbaik dan kondisi terburuk.
Senin, 02 November 2015
Attitude adalah segalanya
| ilustrasi |
Dua belas tahun lalu, seorang wanita pergi kuliah di Prancis.
Dia perhatikan bahwa sistem transportasi di sana menggunakan sistem otomatis, artinya anda beli tiket sesuai dengan tujuan melalui mesin.
Setiap perhentian kendaraan umum pakai cara "self-service" dan jarang sekali diperiksa petugas. Bahkan pemeriksa insidentil oleh petugas pun hampir tidak ada.
Akhirnya lama kelamaan dia temukan kelemahan sistem ini, dan dengan kelihaiannya dia bisa naik transportasi umum tanpa harus beli tiket dan dia perhitungkan kemungkinan tertangkap petugas karena tidak beli tiket sangat kecil. Sejak itu, dia selalu naik kendaraan umum dengan tidak membayar tiket. Dia bahkan merasa bangga atas kepintarannya tersebut
Dia berpendapat dalam hati karena dia anggap dirinya adalah murid miskin, dan kalo bisa irit ya irit. Namun, dia tidak sadar dia sedang melakukan kesalahan fatal yang akan mempengaruhi karirnya kelak.
4 tahun berlalu, dan dia tamat dari fakultas yang ternama dengan angka yang sangat bagus. Hal ini membuat dirinya penuh percaya diri. Lalu dia mulai mengajukan aplikasi kerja di beberapa perusahan ternama di Paris, dengan pengharapan besar untuk diterima. Pada mulanya, semua perusahan ini menyambut dia dengan hangat. Tapi berapa hari kemudian, semuanya menolaknya dengan berbagai alasan.
Hal ini terus terjadi berulang kali sampai membuat dia merasa tidak terima dan sangat marah. Bahkan dia mulai menganggap perusahan-perusahan ini rasis, karena tidak mau menerima warga negara asing. Akhirnya, karena penasaran dia memaksa masuk ke departemen tenaga kerja untuk bertemu dengan managernya. Dia ingin tahu alasan apa perusahan-perusahaan tersebut menolaknya. Ternyata, penjelasan yg didapat diluar perkiraannya...
Berikut adalah dialog mereka...
Manager: Nona, kami tidak rasis, sebaliknya kami sangat mementingkan anda. Pada saat anda mengajukan aplikasi pekerjaan di perusahan, kami sangat terkesan dengan nilai akademis dan pencapaian anda. Sesungguhnya, berdasarkan kemampuan, anda sebenarnya adalah golongan pekerja yang kami cari-cari.
Wanita: Kalau begitu, kenapa perusahan-perusahaan tersebut tidak menerima saya bekerja?
Manager: Jadi begini, setelah kami memeriksa di database, kami menemukan data bahwa nona pernah tiga kali kena sanksi tidak membayar tiket saat naik kendaraan umum.
Wanita: (Kaget) Ya saya mengakuinya, tapi apakah karena perkara kecil tersebut perusahan menolak saya?
Manager: Perkara kecil ?!? Kami tidak anggap ini perkara kecil, nona.
Kami perhatikan pertama kali anda melanggar hukum terjadi di minggu pertama anda masuk di negara ini. Saat itu petugas percaya dengan penjelasan bahwa anda masih belum mengerti sistem transportasi umum disini. Kesalahan tersebut diampuni. Namun anda tertangkap 2x lagi setelah itu.
Wanita: Ohh waktu itu karena tidak ada uang kecil saja.
Manager: Tidak, tidak. Kami tidak bisa terima penjelasan anda. Jangan anggap kami bodoh ! Kami yakin anda telah melakukan penipuan ratusan kali sebelum tertangkap.
Wanita: Well, tapi itu bukan kesalahan mematikan bukan? Kenapa harus begitu serius? Lain kali saya berubah kan masih bisa?
Manager: Saya tidak anggap demikian, nona!. Perbuatan anda membuktikan dua hal:
1. Anda tidak mau mengikuti peraturan yg ada
Anda pintar mencari kelemahan dalam peraturan dan memanfaatkan untuk diri sendiri.
2. Anda tidak bisa dipercaya
Banyak pekerjaan di perusahan kami bergantung pada kepercayaan. Jika anda diberikan tanggungjawab atas penjualan di sebuah wilayah, maka anda akan diberikan kuasa yg besar. Karena efisiensi biaya, kami tidak akan memakai sistem kontrol untuk mengawasi pekerjaanmu. Perusahan kami mirip dengan sistem transportasi di negeri ini. Oleh sebab itu, kami tidak bisa pakai menerima anda, nona. Dan saya berani katakan, di negara kami bahkan seluruh Eropa, tidak ada perusahan yg mau menggunakan jasa anda.
Pada saat itu, wanita ini seperti tertampar dan terbangun dari mimpinya dan merasa sangat menyesal. Perkataan manager yang terakhir membuat hatinya bergetar.
MORAL OF THE STORY
Sahabat hebatku,
Dalam kehidupan sosial, Moral dan etika seseorang bisa menutupi kekurangan IQ atau kepintaran. Tetapi IQ atau kepintaran bagaimanapun tingginya tidak akan bisa menolong etika yang buruk....
Attitude atau suatu sikap mental menjadi dasar utama keberhasilan kita, oleh sebab itu jangan dianggap remeh. Attitude diibaratkan seperti berkendara dengan ban kempes, dimanapun kita berada, baik di lingkungan sosial maupun di lingkungan pekerjaan, attitude seseorang akan dengan mudah dirasakan oleh sesama dan orang2 disekeliling kita akan memberikan reaksi yg sama terhadap attitude kita.
Jagalah selalu attitude kita dimanapun karena hal tersebut akan mempengaruhi keberhasilan kita di dalam semua bidang sosial maupun pekerjaan
Selamat menjalani hari Senin yang penuh dengan pengharapan positif dan kegembiraan dalam berusaha
Sumber : anonim
Jumat, 16 Oktober 2015
Kenapa Bangga Menekan Harga Pedagang Kecil?
Beberapa waktu lalu, saya mengunjungi Pak Ujang (65 tahun), pemilik kios ikan kecil di bilangan Jakarta Pusat. Saya sering ke sana. Kiosnya sangat sederhana, berupa papan kecil seluas 2,5 x 4 meter. Beliau sudah lebih dari 30 tahun berjualan ikan di sana.
| Ilustrasi |
Di sudut kanan toko terdapat sebuah tangga menuju lantai dua. Lantai yang memiliki tinggi 1 m merupakan tempat tinggal Pak Ujang dan istri. Tepat saat saya berkunjung, muncullah seorang pembeli yang menggunakan mobil mewah brand Jerman.
Awalnya Si Pembeli membeli makanan ikan seharga Rp 5.000,-
Ia pun berusaha keras menawar. Akhirnya Pak Ujang sepakat menjual Rp 9.000,- per dua bungkus.
Ia pun berusaha keras menawar. Akhirnya Pak Ujang sepakat menjual Rp 9.000,- per dua bungkus.
Si Pembeli kemudian melihat ikan Koi tiga warna berukuran sekitar 30 cm. Pak Ujang menjual dengan harga Rp. 40.000,- per ekor. Terjadilah tawar-menawar.
Si pembeli terus memaksa ingin memiliki ikan tersebut dengan harga Rp 25.000,-. Katanya, ikan begitu tidak layak dihargai Rp 40.000,-
Pak Ujang terlihat sangat keberatan menjual ikan tersebut di bawah Rp 35.000,-. Namun, saya sendiri menyaksikan betapa kerasnya si pembeli menawar dan memaksa.
Akhirnya Pak Ujang pun luluh dan menjual empat ekor dengan harga yang diinginkan pembeli. ”Ikan ini sudah hampir 1 bulan tidak laku,” Jawabnya setelah saya menanyakan alasannya menjual ikan Koi itu.
Si Pembeli kembali membeli tanaman air yang harusnya berharga Rp 5.000,- per buah. Begitu gigihnya, ia mendapat 4 buah tanaman air dengan uang Rp 10.000,-, sampai-sampai Si Pembeli memasukkan sendiri dua tanaman air tambahan ke plastik.
Tidak berhenti sampai di sana, saat hendak membayar, si pembeli kembali meminta dua ekor ikan kecil seharga Rp 5.000,- per ekor untuk mainan anaknya. Dan Pak Ujang akhirnya memberikan.
Tidak berhenti sampai di sana, saat hendak membayar, si pembeli kembali meminta dua ekor ikan kecil seharga Rp 5.000,- per ekor untuk mainan anaknya. Dan Pak Ujang akhirnya memberikan.
Saya merenung. Banyak orang sering sekali berhemat setiap keping rupiah dari si Miskin. Mereka sering mengganggap harga barang dari seorang pedagang kecil atau pasar tradisional tidak pantas dan menawar begitu gigih, lalu kemudian merasa puas karena bisa berhemat setidaknya Rp 500,-
Kemudian mereka berjalan ke mall dan tidak bertanya kepantasan dari harga secangkir kopi Rp 60.000,- atau semangkok bakso seharga Rp. 40.000,- Mereka bahkan membeli dengan bangga dan malu bila menawar.
Kemudian mereka berjalan ke mall dan tidak bertanya kepantasan dari harga secangkir kopi Rp 60.000,- atau semangkok bakso seharga Rp. 40.000,- Mereka bahkan membeli dengan bangga dan malu bila menawar.
Mereka menawar dari tukang becak yang harus mengayuh sepeda dengan berat, tetapi tidak pernah memprotes argo taksi yang bergerak tak terkendali.
Setelah itu, mereka akan bicara tentang pengentasan kemiskinan.
Mereka salahkan pemerintah atas data-data kemiskinan yang tidak pernah turun.
Padahal di balik itu, mereka mengeksploitasi Si Miskin.
Mereka berusaha berhemat setiap keping rupiah dari Si Miskin yang bekerja lebih keras, lebih berat, dan di terik panas untuk memberi makan keluarganya.
Namun, mereka menghabiskan uang yang jauh lebih banyak di mall tanpa menanyakan kepantasannya.
Dan sadar ataupun tidak.. mereka mungkin adalah kita.
(Sumber : Family Guide)
Jumat, 09 Oktober 2015
RIAU DARURAT ASAP
Bagi yang masih bisa menghirup udara segar, mohon perhatiannya untuk saudara-saudara kita di Riau. Mereka masih terancam asap 24 jam entah sampai kapan.
Mari galang bantuan untuk masyarakat Riau dengan donasi Rp 15.000, -/masker N95. Silakan menyumbang kelipatannya.
Masker N95 adalah masker yang dapat menyaring 95% partikel yang ada di udara. Bentuknya setengah bulat dan berwarna putih, terbuat dari bahan solid dan tidak mudah rusak. Masker N95 banyak dipergunakan oleh tenaga medis dalam penanganan flu burung, dll. Untuk bencana alam seperti meletusnya gunung sinabung, masker N95 banyak digunakan.
Distribusi masker akan bekerja sama dengan komunitas Melawan Asap Pekanbaru
Transfer ke:
komunitas Wirausaha Tangan Di Atas (TDA) Serang
Divisi TDA peduli
Transfer ke
BCA an Intan Maria Septiana 2450494961
komunitas Wirausaha Tangan Di Atas (TDA) Serang
Divisi TDA peduli
Transfer ke
BCA an Intan Maria Septiana 2450494961
Konfirmasi sms 087871986148
Nama/total transfer
Nama/total transfer
Jumat, 06 Februari 2015
Panaskan Mesin Anda
inspirasi Jumat...
Panaskan "Mesin" Anda..
suatu ketika ada seorang pemuda yang baru membeli sebuah motor sport dengan kapasitas mesin yang sangat besar. Harganyapun sangat mahal hampir seratus juta. Setiap hari selalu ia rawat dan dipakai jalan2 keliling kota dengan bangganya.
2 minggu kemudian ia harus pergi keluar kota selama 1 bulan penuh karena ada proyek yang harus dikerjakan. ia pun meninggalkan sepeda motor kesayangannya digarasi sebulan penuh.
| Ilustrasi |
Sebulan kemudian, sang pemuda kembali kerumahnya. karena kangen luar biasa dengan sang motor, ia pun langsung mengeluarkan motornya dari garasi dan hendak dipakai jalan2 keliling kota. Namun apa yang terjadi, ketika coba distarter, motor tersebut tidak menyala. bahkan sdh coba distarter sampai 1 jampun, motor tetap tidak mau menyala.
Karena kesal sang pemudapun membawa motornya ke bengkel resmi dan berkata " kok bisa ya, motor sport mesinnya bagus, kapasitasnya tinggi, harganya mahal lagi kok bisa mogok toh, padahal baru saya tinggal sebulan loh"
Sang mekanik motor dgn tersenyum bertanya apakah motor tsb selama sebulan penuh, pernah dihidupkan atau dipanaskan mesinnya. sang pemudapun menggeleng, tidak pernah sama sekali. Sang mekanik sambil tersenyum berkata" sebagus apapun kualitas mesin motornya, jika tidak pernah dipakai atau dipanasin dalam waktu yang lama, pasti akan mogok karena semua onderdil dalam mesin diciptakan untuk bergerak".
Sahabat seringkali dalam hidup, kita merasa dalam kondisi "mogok". sulit berkembang, pendapatan pas-pasan, jenuh karena rutinitas. bisa jadi itu karena kita jarang "panaskan mesin" yang Tuhan anugrahkan pada kita. yaitu "mesin fisik", "mesin kecerdasan" dan "mesin hati".
So, mulai sekarang panaskan "mesin fisik" dgn jaga pola makan, panaskan "mesin kecerdasan" dengan selalu berinovasi, panaskan "mesin hati" dengan selalu menebar kebaikan.
Semoga bermanfaat
Sumber : Sumedi Abdul Latief, Lc.
Kamis, 11 Desember 2014
Masih Edisi di Angkot
| Ibu (Ilustrasi) |
Baru berapa saat saya naik, kiri sep... kata ibu tua di depanku sambil berkemas. Mobil pun minggir. Sopirnya masih muda, mungkin belum sampai 25 usianya.
Sopirnya bertanya : Ibu turunnya bisa? pelan-pelan aja bu.... katanya.
Si ibu menjawab, turunnya mah pelan pelan bisa sep, tapi nyeberangnya ibu takut.
Sopir pun turun dari mobil menuju pintu belakang penumpang, sini bu saya tolongin katanya. Sopir itu membimbing ibu tua itu turun, lalu membantu menyeberangkan pelan pelan karena ibu tua itu jalan tertatih tatih.
Setelah kembali ke mobil, saya iseng bertanya... Ibu nya mas?
Bukan... jawabnya..
Oh.. saya kira ibunya, manggilnya sep..saya kira mas nya namanya asep.. kataku ringan. Baik banget mas mau ngurusin sampai nyebrangin segala...
Kalau itu ibu saya bu, gak bakalan saya biarin pergi-pergi sendiri. Kalau jatuh, ketabrak, atau sakit di jalan gimana coba? Saya suka sedih bu lihat ibu-ibu tua, ngapa-ngapain sendirian. Padahal dulu pasti lagi mudanya pergi-pergi anaknya selalu dibawa, dijagain takut anaknya jatuh , diurusin siang malem waktu anaknya sakit. ya gak bu? tanyanya....
Iya jawabku singkat... (Tenggorokan rasa terkunci)
Iya bu..Orang kadang gak ngehargain ibunya... kalau senang lupa, kalau susah pasti nyari ibunya.... padahal bu.. saya ini gak punya ibu, ibu saya meninggal dari saya kecil. Saya diasuh orang lain, barangkali kalau saya punya ibu, nasib saya gak begini... karena pasti ada ibu yang ngedoain supaya jadi anak yang sukses. Orang lain di doain ibunya, belum tentu juga inget dan sadar kalau itu tuh hasil doa sama jeripayah ibunya... yaa gak bu?
Iya.. jawabku lemah...
Kiri depan yaa... saya doain mas selalu dimudahkan rejekinya dan bisa sukses yaa mas. jangan lupa ibunya dikirimin doa. makasih yaa...
Buru buru ambil Hp di tas... Assalamu'alaikum. .. mama..lagi apa? sehat ma? sama siapa di rumah? .....
# maafkan aku mama..
Sumber : Ernydar Irfan
Senin, 08 Desember 2014
Tak Perlu Menunggu Kaya Untuk Bahagia dan Bersedekah
| Tak Perlu Menunggu Kaya Uuntuk Sedekah |
Bubu... udah 3x angkot lewat.. kenapa gak naik-naik... aku tersenyum...
Angkotnya masih banyak penumpangnya dek... sabar ya...... jawabku...
Emang kenapa bubu? tanyanya lagi
Bubu nunggu yang angkotnya kosong...
Kenapa bubu? kalau kosong kan bahaya... nanti ada orang jahat...
Saya kembali tersenyum dan mengusap kepala si bungsuku... Adek... jalan dari sini ke toko cuma 3 kilo, jalannya lurus doang, ramai dan cenderung padat. In Sya Allah aman
Tapi kan ini makin siang, bubu gak kesiangan nanti buka tokonya?
Waktu itu milik Allah nak... percayalah semua akan Allah atur selama semua kita niatkan karena Allah.
Tapi kenapa bubu nunggu yang kosong
Karena bubu pengen jadi "tangan" untuk orang orang yang berharap..
Tidak berapa lama, datanglah angkot kosong, kami berdua naik...
Assalamualaikum pak... sepi tarikannya? tanyaku...
Waalaikumsalam bu... iya nih bu...dari tadi muter-muter belum dapet penumpang, buat nambah beli bensin belum ada, apalagi ngejar setoran... dari tadi saya berdoa... mudah-mudahan ada penumpang. Alhamdulillah ibu niih naik ....
Alhamdulillah pak... mudah-mudahan di depan banyak penumpangnya yaa pak... Aamiin...
Di depan perumahan taman puri Alhamdulillah 2 orang naik lagi... aku dan anakku berpandangan dan tersenyum.
Tidak berapa lama kami berdua turun...
Aku bertanya pada anakku...
Aku bertanya pada anakku...
Adek ngerti maksud tindakan bubu tadi? Si bungsu tersenyum dan mengangguk.
Sambil membuka gembok ruko saya berkata... Adek, kita gak perlu nunggu kaya untuk bisa bahagia dan bersedekah. Ada uang, beri uang, ada waktu, beri waktu, bahkan ketika kita cuma punya doa, maka berikanlah doa.
Melakukan sesuatu hal kecil untuk membuat orang lain bahagia itu pun bisa membuat kita jauh lebih bahagia.Si bungsuku tersenyum...
Yaa Allah semoga anak-anakku adalah anak anak yang mampu menerima hikmah dengan baik dan kelak menjadi pemimpin kaum shalihin...
#Kebahagiaan dalam kesederhanaan...
Sumber : Ernydar Irfan
Langganan:
Postingan (Atom)


